13 Dosen Uninus Ikuti Program PDS Kemenristekdikti

Kampus Uninus, (Foto: Istimewa).

Share

BANDUNG, DIDIKPOS.COM – Sebanyak 13 Dosen dari berbagai Program Studi (Prodi) di FKIP Universitas Islam Nusantara (Uninus) melaksanakan program Penugasan Dosen di Sekolah (PDS).

Ke-13 dosen yang mengikuti program pada 2018 itu masing-masing dari Prodi Pendidikan Matematika sebanyak 2 orang, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2, Bahasa Inggris 2, Pendidikan Kewarganegaraan 2, Pendidikan Guru PAUD 2, dan dari Prodi Pendidikan Luar Biasa sebanyak 3 orang.

Adapun tujuh sekolah dari berbagai jenjang yang dijadikan lokasi program itu yakni Sekolah Laboratorium MTs dan MA Sirnamiskin Bandung serta Sekolah Mitra; TK Mekar Arum Bandung; SMA Negeri 17 Bandung; SMA Negeri 20 Bandung; SMK Negeri 6 Bandung; dan SLB Negeri Cileunyi.

“Universitas Islam Nusantara merupakan salah satu LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan) di Indonesia yang mendapatkan Program PDS) dari Dirjen Belmawa – Kemenristekdikti (Pembelajaran dan Kemahasiswaan – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Tahun 2018 dan 2019,” kata Ketua Pelaksana, Dr. Ir. Okke Rosmaladewi, M.M.Pd., didampingi Koordinator Lapangan Luki Luqmanul Hakim, M.Pd. dan narasumber Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Selasa (9/7/2019).

Okke menuturkan, keberhasilan PDS di tahun pertama ini, perlu didiseminasikan pada dosen-dosen lain di LPTK yang belum memiliki pengalaman cukup melaksanakan pembelajaran di sekolah. Sehingga, pada Pelaksaaan Implementasi PDS tahun 2019 ini 12 Dosen Muda diikutsertakan menjadi TIM Teaching Dosen PDS 2018.

Selain itu, lanjutnya, Program PDS telah memberi pengalaman yang sangat berharga bagi dosen untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di LPTK sehingga hasilnya harus dapat dirasakan oleh mahasiswa.

“Dosen yang telah mengikuti program PDS di tahun 2018 didampingi TIM Teaching mengevaluasi perkuliahan yang sudah berlangsung. Itu untuk merancang strategi terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran bagi calon guru masa depan,” katanya.

“Guru masa depan harus mempunyai literasi baru yang diperlukan di era industri 4.0 dan era literasi 5.0, literasi teknologi dan literasi manusia, serta melakukan inovasi pembelajaran yang menggambarkan suasana nyata pembelajaran di sekolah. Dengan demikian program ini dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa menempuh PLP/PPL di jenjang level 6 dan kesiapan pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di jenjang level 7,” terang Ikke.(dede suherlan)***

Tinggalkan Balasan