Makna dan Peran Perpustakaan Sekolah (3/Bersambung)

Ilustrasi, (Tribunnews.com).

Share

Oleh Undang Sudarsana

B. Peran Kepala Sekolah
Kepala Sekolah merupakan titik sentral dari seluruh kegiatan sekolah. Kepala Sekolah sebagai pucuk pimpinan yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap kelancaran proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah yang dipimpinnya. N.A. Ametembun (1982: 4) mengemukakan tentang peranan Kepala Sekolah sebagai berikut:

  1. Sebagai administrator sekolah yang tugasnya mengatur segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar di sekolah yang dipimpinnya.
  2. Sebagai supervisor sekolah yaitu membina agar segala sesuatu di sekolah berjalan lebih baik.

Tugas Kepala Sekolah sebagai administrator adalah mengkoordinir dan mendayagunakan semua sumber human dan non human yang ada di lingkungannya secara efektif untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah yang dipimpinnya. Bidang garapan administrasi ini meliputi aspek pengajaran, kesiswaan, alat-alat pengajaran, bangunan, dan perlengkapan sekolah, serta keuangan. Sedangkan tugas Kepala Sekolah sebagai supervisor adalah melakukan supervisi yang menyangkut pengawasan terhadap penyelenggaraan seluruh kegiatan administrasi sekolah dalam rangka usaha pembinaan, perbaikan, dan peningkatan situasi belajar mengajar.

Dengan demikian, Kepala Sekolah sebagai administrator pendidikan mempunyai tugas dalam mengatur fasilitas pendidikan yang antara lain penyediaan sarana perpustakaan.

Dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah, Kepala Sekolah bertanggung jawab terhadap:

  1. Penyediaan dana;
  2. Pemenuhan fasilitas perpusatakaan;
  3. Kerjasama;
  4. Evaluasi terhadap efisiensi dan efektivitas pelayanan perpustakaan.
    Di sini sangat jelas, bahwa Kepala Sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam menyelenggarakan perpustakaan sekolah, sehingga diharapkan dapat menstimulir guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dengan baik.

Sehubungan dengan hal tersebut, pendekatan yang dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah dalam memberikan motivasi pada guru dan siswa agar mendayagunakan perpustakaan antara lain:

  1. tatap muka dengan guru dan siswa
  2. memberi contoh
  3. wawancara dengan para pemakai perpustakaan
  4. memberikan pengarahan pada waktu di kelas maupun pada saat upacara sekolah.

Nada yang sama tertera dalam kutipan berikut ini:

  1. Mengembangkan koleksi untuk guru dan siswa
  2. Mendorong guru-guru untuk memanfaatkan koleksi perpustakaan dalam proses belajar mengajar
  3. Memasukkan angaran tahunan perpustakaan dalam pembuatan rencana anggaran pendapatan belanja sekolah
  4. Memberikan penghargaan kepada guru yang dinilai sering menggunakan perpustakaan
  5. Selalu memanfaatkan forum rapat orang tua murid untuk tujuan pengembangan perpustakaan
  6. Mengevaluasi dan menilai kegiatan perpustakaan tiap akhir semester.
    Sebagai orang pertama di sekolah, Kepala Sekolah harus mampu memberikan dorongan kepada guru dan siswa untuk senantiasa mendayagunakan sumber-sumber belajar yang tersedia di perpustakaan. Kepala Sekolah juga perlu mengajak dan memotivasi orang tua siswa untuk dapat memahami kondisi proses belajar mengajar di sekolah dan memberikan penekanan tentang peran serta orang tua khususnya dalam memberikan bimbingan belajar kepada putra-putrinya di rumah.

C. Peran Guru
Guru adalah orang yang bergaul setiap hari secara langsung dengan siswa di kelas melalui proses belajar mengajar. Pengayaan proses belajar mengajar di kelas hanya akan terjadi apabila guru pandai menggunakan peluang dan kesempatan agar siswa senantiasa aktif mengikuti pelajaran dengan menyertakan berbagai sumber belajar yang tersedia dan mungkin untuk didayagunakan. Sumber-sumber belajar di perpustakaan merupakan kelengkapan belajar utama yang paling mungkin untuk didayagunakan dalam proses belajar mengajar di kelas. Untuk kepentingan ini, guru dapat mengaplikasikannya melalui penggunaan berbagai pendekatan dalam metode pengajaran.

Guru sebagai salah satu sumber daya dalam administrasi pendidikan dapat turut mengintegrasikan perpustakaan dalam proses mengajarnya. Guru membantu pustakawan dalam hal memberikan informasi tentang hubungan perpustakaan dengan pengajaran yang diberikan di kelas. Guru dapat memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa baik secara individual maupun secara kelompok. Selain itu, guru turut serta dalam membantu mengembangkan minat baca siswa dan melakukan pengayaan pengetahuan siswa yang tidak hanya terbatas kepada pengetahuan yang diperoleh di kelas.

Sebagai pentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi, guru harus mempunyai kriteria seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1982: 12) sebagai berikut:

  1. Memahami dan menghormati murid
  2. Menguasi bahan pelajaran yang diberikannya
  3. Menyesuaikan metode mengajar dengan bahan-bahan pelajaran
  4. Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu
  5. Mengaktifkan murid dalam hal belajar
  6. Memberikan pengertian dan bukan hanya kata-kata belaka
  7. Mampu menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid
  8. Mempunyai tujuan tertentu dengan setiap pelajaran yang diberikannya
  9. Tidak terikat oleh suatu text book
  10. Tidak hanya mengajar melainkan senantiasa membentuk pribadi anak.

Di sini tampak jelas, bahwa guru yang mengajar adalah seseorang yang membimbing aktivitas siswa untuk mencapai sesuatu yang ingin dikuasai dan ingin diketahuinya. Selain itu, guru membimbing siswa untuk memperoleh gambaran dan pengalaman hasil daripada interaksi dengan lingkungannya, karena lingkungan sangat berpengaruh kepada siswa yang sedang dalam proses belajar. Lingkungan belajar itu sangat luas baik di dalam maupun di luar sekolah. Di luar sekolah proses belajar siswa dipengaruhi oleh orang tua, teman sebaya, anggota masyarakat lain, dan lingkungan belajar lainnya seperti suasana, kondisi, dan alat-alat yang menunjang belajar. Lingkungan di sini adalah lingkungan dalam sekolah yaitu aspek-aspek kurikulum yang membentuk pengalaman siswa. Kurikulum sebagaimana diketahui adalah segala sesuatu yang mempengaruhi belajar siswa.

Sebagai pengajar, guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa sesuai dengan rencana pelajaran yang telah ditetapkan, dengan kata lain guru adalah penyampai informasi pengetahuan kepada siswanya. Oleh karena itu, guru tidak bisa melepaskan diri dari penggunaan perpustakaan sebagai tempat segala macam informasi. Guru melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan, antara lain:

  1. Mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk kepentingan mengajar di kelas.
  2. Mempelajari bahan-bahan yang berhubungan erat dengan vak yang diajarkannya, untuk bahan komparasi dan memperluas horizon pengetahuannya.
  3. Mencari bahan-bahan dan informasi untuk memperdalam dan meningkatkan profesi dan pengetahuan umum.
  4. Mencari bahan-bahan untuk mempersiapkan kertas kerja, pertemuan, diskusi, penataran, seminar, dan lain-lain.
  5. Mempelajari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kedudukannya dalam masyarakat dan lingkungan keluarga.
  6. Untuk memberikan bimbingan dan tugas kepada murid-muridnya sesuai dengan program pengajaran yang sedang dilakukan dan dilaksanakan.
  7. Mempelajari ilmu pengetahuan dan informasi yang mutakhir.
  8. Berkonsultasi dengan pustakawan tentang tingkat dan minat membaca para siswanya, dan lain-lain. (Muchyidin, 1977: 112).

Guru adalah pembimbing dan motivator bagi siswa. Siswa sebagai obyek sekaligus sebagai subyek pendidikan menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam proses pendidikan, siswa harus lebih banyak dinilai sebagai subyek, karena siswa diharapkan dapat mengembangkan diri dalam upaya-upayanya untuk membentuk pribadi sebagai manusia yang diharapkan oleh tujuan pendidikan.

Siswa dapat mengembangkan diri antara lain dengan cara harus bersifat aktif. Aktivitas ini biasanya timbul karena adanya rangsangan dari guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya, sarana atau alat pendidikan serta sistem pendidikannya. Salah satu sarana pendidikan yang diharapkan mampu merangsang dan meningkatkan aktivitas siswa adalah perpustakaan, karena perpustakaan sekolah berguna bagi siswa untuk:

  1. mencari bahan-bahan yang sedang dipelajari/dibahas di kelas.
  2. mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru
  3. melaksanakan proyek, unit lesson, dan sebagainya.
  4. membaca buku-buku, majalah, dan materi tercetak lainnya untuk mengisi waktu senggang atau hal-hal yang berhubungan dengan minat pribadi.
  5. mencari contoh-contoh, baik gambar ataupun berupa model yang berkaitan dengan pelajaran, dan sebagainya. (Muchyidin, 1977: 13)

Melihat kegunaan perpustakaan dalam kaitannya dengan tugas mengajar guru, maka jelas bahwa perpustakaan memiliki peranan yang penting dalam membantu belajar murid. Namun penggunaan perpustakaan oleh siswa tidak bisa berjalan dengan baik apabila unsur pustakawan dalam pelayanannya diabaikan.

Guru tidak semata-mata menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa, akan tetapi mengkoordinir lingkungan dengan sebaik-baiknya dan menyediakan fasilitas belajar yang memadai serta memberikan dorongan kepada siswa untuk berfikir kreatif dalam menghadapi hal-hal yang harus dipelajari, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar mencapai hasil yang baik. Oleh karena itu, guru mempunyai peran dalam memberikan motivasi terhadap kegiatan belajar siswa di perpustakaan, karena guru merupakan pelaksana langsung dalam kegiatan belajar mengajar.

Sebagai upaya guru dalam memotivasi siswa agar mau mendayagunakan perpustakaan dapat menempuh cara, antara lain:

  1. Membatasi metode ceramah dan memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mencari bahan-bahan bacaan sendiri sebagai penunjang pembicaraan pokok bahasan tertentu.
  2. Memberikan tugas kepada kelompok kecil murid untuk melakukan penelitian sederhana dalam ruang lingkup pokok bahasan tertentu.
  3. Secara aktual memberikan contoh kepada murid dalam mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan.
  4. Menggunakan metode yang dapat merangsang siswa dalam memanfaatkan sarana perpustakaan.
  5. Memberikan tugas kepada siswa untuk menilai buku yang dibacanya.
  6. Mengadakan kerjasama dengan pustakawan.

Bila kita perhatikan kegunaan perpustakaan dalam kaitannya dengan tugas mengajar guru, maka jelas bahwa perpustakaan sekolah mempunyai peranan yang penting dalam membantu belajar siswa. Namun penggunaan perpustakaan oleh siswa tidak bisa berjalan dengan baik apabila unsur pustakawan dalam pelayanannya diabaikan.

Dalam sistem pendidikan moderen, guru ikut mempengaruhi perkembangan daripada perpustakaan sekolah. Sebagai pengajar, guru seyogianya memberikan saran-saran yang baik kepada pustakawan untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan sekolahnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru berhubungan dengan pertumbuhan dan penggunaan perpustakaan sekolah, antara lain:

  1. agar bahan-bahan perpustakaan dapat membantu kemajuan pelajaran di kelas, guru harus tahu bahan-bahan apa yang ada dalam perpustakaan.
  2. sebaiknya sebelum pelajaran diberikan, guru menyampaikan rencana lengkap kepada pustakawan agar mempersiapkan bahan dengan seksama.
  3. guru sebaiknya memberi dorongan agar para pelajar menjadi pembaca dan peminjam buku dari perpustakaan sekolah yang setia.
  4. guru sebaiknya selalu mengetahui buku baru di bidangnya agar dapat memberi saran kepada petugas perpustakaan untuk dibeli. (Depdikbud, 1979: 129)

Dari paparan di atas tampak jelas, bahwa tugas dan tanggung jawab guru adalah membantu mencapai tujuan sekolah yaitu produktivitas pendidikan yang tinggi. Partisipasi guru yang bekerjasama dengan pustakawan sekolah dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa serta prestasi dari sekolah yang bersangkutan.

Kedudukan guru dalam kegiatan kerjasama dengan pustakawan ini ditujukan untuk merangsang minat baca dan belajar siswa di perpustakaan. Ase S. Muchyidin (1977: 29), mengemukakan bahwa: “Guru menduduki peranan penting baik kedudukannya sebagai instruktur maupun sebagai stimulator untuk memungkinkan murid-murid mau belajar di perpustakaan, dengan cara baik melalui informasi dan pengarahan maupun dengan melalui pemberian tugas sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan”.

Perpustakaan akan efektif bagi proses belajar mengajar apabila guru melibatkan diri pada program perpustakaan, walaupun guru hanya datang ke perpustakaan untuk membaca namun merupakan pendorong bagi siswa untuk membiasakan diri berkunjung dan mendayagunakan perpustakaan sekolahnya. Menurut Peacock Douglas (1971: 20):
Teacher as a member of the library team should provide and observe regular library periods with his pupils so as to give them recurring opportunity to use and explore the wealth of the library he should also share with the librarian the responsibility for instruction his group in use of the library

Buku-buku yang ada di perpustakaan dan dipinjamkan ke rumah akan bermanfaat karena guru memberi tugas kepada siswa. Tugas ini merupakan motivasi bagi siswa untuk selalu meminjam buku dari perpustakaan.
Dorongan yang diberikan guru kepada siswa untuk mendayagunakan perpustakaan adalah dengan jalan:

  1. Para siswa ditugaskan untuk mencari informasi dengan menggunakan koleksi perpustakaan atau sumber bacaan yang ada di perpustakaan.
  2. Para siswa ditugaskan untuk membuat rangkuman isi buku dan membuat laporannya. Dengan melakukan aktivitas yang demikian berarti siswa dilatih untuk menangkap isi yang tersirat dalam buku yang dibacanya.
  3. Para siswa dapat ditugaskan untuk mengikuti atau turut berkecimpung dalam kegiatan perpustakaan sekolah pada jam-jam tertentu, dengan demikian siswa akan lebih dekat mengenal berbagai jenis bahan pustaka yang dijadikan koleksi perpustakaan serta dapat belajar mengelola perpustakaan.
  4. Para siswa dapat ditugaskan untuk membuat daftar pustaka dengan memberikan catatan-catatan (annotated bibliography), dan mengenai topiknya diserahkan kepada siswa sendiri.
  5. Para siswa ditugaskan membuat makalah (paper) dengan jalan menggunakan literatur yang ada di perpustakaan sekolah sebagai bahan penunjang untuk menyelesaikan tugasnya.
  6. Pada akhirnya guru harus dapat memperlihatkan, bahwa ia senang membaca dan rajin mengunjungi peerpustakaan.

Senada dengan hal tersebut, Sunindyo (1996: 3) mengemukakan, bahwa dorongan yang diberikan guru terhadap siswa untuk mendayagunakan perpustakaan, antara lain:

  1. Memberi contoh dengan datang ke perpustakaan sekolah pada waktu-waktu tertentu; membuat persiapan mengajar, melengkapi bahan-bahan pelajaran, membaca untuk menambah pengetahuan, dan sebagainya.
  2. Melibatkan sumber-sumber informasi yang ada dalam perpustakaan sekolah untuk pelajaran di kelas.
  3. Mempertinggi kemampuan, minat dan kebiasaan para pelajar.
  4. Memperkenalkan buku-buku yang baik dan patut dibaca yang berhubungan dengan pelajaran di kelas.
  5. Memberikan motivasi kepada anak-anak untuk membaca.
  6. Mengajak kelas pada waktu-waktu tertentu untuk memperkenalkan pelajar pada perpustakaan, penggunaannya, melatih cara-cara mencari informasi dan untuk belajar membiasakan diri menggunakan sumber-sumber informasi yang tersedia.

Aktivitas belajar di perpustakaan bagi siswa, banyak tergantung dari motivasi dan bimbingan guru untuk mendayagunakan perpustakaan sekolah. Selain itu penyediaan bahan-bahan di perpustakaan juga merupakan suatu rangsangan bagi siswa. Siswa akan merasa senang apabila bahan-bahan ditata oleh tangan-tangan terampil yang mengerti arti, fungsi, dan tujuan perpustakaan.

Pentingnya kemampuan komponen pendidik sebagai pengajar dan pustakawan dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan perpustakaan dikemukakan oleh Soejono Trimo (1977: 26) sebagai berikut: “untuk dapat secara efektif mengembangkan dan mensinkronkan pengalaman para anak didik sehingga memungkinkan dicapainya target pendidikan yang optimal, dibutuhkan terciptanya interaksi-interaksi yang harmonis antara bahan-bahan pustaka dalam pemakaiannya dan individu-individu yang berperan dalam pendidikan itu (interpersonal relations)”.

Bermacam-macam latar belakang kehidupan yang diperoleh dari membaca akan membentuk pribadi seseorang dalam kehidupan sosialnya. Dengan kemampuan membaca yang baik siswa akan menjadi luas pengetahuannya, dapat berpikir dan memecahkan masalah yang dihadapinya serta dapat mempertanggungjawabkan pendapat yang dikemukakannya. Karena itulah guru dapat memotivasi siswa dengan memberi teladan dalam menggunakan perpustakaan. Ayip Rosidi (1973: 28) mengatakan bahwa: “…..usaha untuk meningkatkan pembinaan kegemaran membaca di kalangan para pelajar itu secara tegas menuntut partisipasi yang aktif dari para guru sendiri. Guru harus memberikan contoh gemar membaca; guru harus aktif menyediakan bahan bacaan dan guru harus pula aktif meningkatkan kemampuan teknik membaca para pelajar”.

Pada mulanya adalah baik apabila penugasan siswa untuk membaca itu diintegrasikan dengan seluruh program pelajaran sekolah. penugasan membaca sebaiknya diperlakukan sama pentingnya seperti penugasan pekerjaan sekolah yang sesuai dengan kurikulum. Jadi tugas membaca yang diintegrasikan dengan kurikulum merupakan suatu jalan membina minat baca siswa pada sekolah-sekolah. Ini pun berarti, bahwa perpustakaan sekolah memiliki peranan yang penting dalam menunjang program pendidikan sekolah, khususnya usaha guru dalam memupuk kemampuan dan keinginan membaca siswa.

Dalam memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan, guru dituntut untuk dapat memperkaya beragam materi pendidikan tersebut. Karena itulah pendidikan menuntut agar program perpustakaan sekolah menjadi pusat segala informasi yang berhubungan dengan pendidikan dan pusat integrasi segala kegiatan pendidikan. Selain itu, pendidikanpun menuntut agar perpustakaan itu menjadi tempat para siswa, guru, dan pustakawan bekerjasama dalam memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan baik individu maupun kelompok.

Individu yang berperan dalam pembinaan pendidikan adalah guru dan pustakawan. Dalam sekolah yang sudah berkembang, pembinaan dan bimbingan kepada siswa tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh petugas bimbingan dan penyuluhan, pustakawan dan staf pengajar lainnya. Tetapi pada kenyataannya, keadaan perpustakaan sekolah pada umumnya masih jauh dari harapan sebagai sarana pengembang kemampuan membaca (belajar) siswa, dan kegiatan yang dilakukan guru, petugas bimbingan dan penyuluhan serta komponen pendidikan lainnya belum menunjang suasana masyarakat belajar membaca.***

*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.

Tinggalkan Balasan