Makna dan Peran Perpustakaan Sekolah (5/Bersambung)

Ilustrasi, (Tribunnews.com).

Share

Oleh Undang Sudarsana

E. Siswa Sebagai Pemakai Perpustakaan
Belajar di perpustakaan merupakan suatu bentuk belajar melalui pengalaman. Belajar melalui pengalaman sering timbul karena adanya ketidakpuasan akan informasi yang diperoleh. Untuk mencapai suatu tingkat kepuasan akan pemahaman suatu informasi dibutuhkan suatu cara belajar yang kreatif agar tercapai suatu cara belajar yang efektif.
Melalui metode belajar yang kreatif, Torrance dan Myers yang dikutif oleh Conny Semiawan (1984: 34), para siswa: “…. menjadi peka atau sadar akan masalah, kekurangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tak ada, ketidak harmonisan, dan sebagainya; mengumpulkan informasi yang ada, membataskan kesukaran ataua mengidentifikasi unsur yang tak ada, dan mengujinya, menyempurnakannya dan akhirnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya”.

Produk belajar yang kreatif pada akhirnya adalah suatu pengembangan pembawaan dan penggunaan akal budi secara penuh dari siswa yang lambat laun melalui membaca menyadari, bahwa salah satu potensi yang dimilikinya harus dekembangkan untuk mencapai suatu hasil belajar. Sejalan dengan kedudukan perpustakaan sekolah itu, maka terdapat implikasi lebih jauh bahwa perpustakaan sebagai tempat untuk mengembangkan belajar melalui membaca bermanfaat bagi siswa. Oleh karenanya materi perpustakaan seyogianya dapat menimbulkan minat siswa untuk melakukan kegiatan membaca tersebut. Karena itu fungsi perpustakaan menjadi berkembang. Semula hanya sebagai penunjang kurikulum. Pada perkembangan selanjutnya menjadi tempat sebagai pemupuk minat baca.

Koleksi perpustakaan yang bervariasi dan disesuaikan dengan tingkat kematangan siswa serta kurikulum sekolah akan memupuk kebiasaan membaca siswa secara bertahap. Fungsi perpustakaan bagi siswa yang sedang belajar adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan mata pelajaran. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan siswa mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang. Siswa akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan obyektif.

Fungsi perpustakaan bagi siswa lainnya adalah untuk meningkatkan apresiasi seni dan sastra serta seni budaya lainnya melalui cara membaca di perpustakaan. Peningkatan apresiasi ini digariskan pada tujuan pendidikan sebagai peningkatan untuk memiliki pengetahuan yang fungsional tentang fakta dan kejadian penting yang aktual, baik lokal, regional, nasional maupun internasional.

Fungsi perpustakaan lainnya adalah mendidik siswa agar dapat mengisi waktu senggangnya dengan baik untuk kegiatannya di masa mendatang. Selain itu, perpustakaanpun berfungsi untuk mempersiapkan siswa agar cepat tanggap terhadap informasi dan inovasi terbaru. Oleh karena itu, siswa tersebut perlu dibiasakan untuk menggunakan alat-alat penelusuran informasi di perpustakaan.

Kemampuan membaca bagi siswa merupakan hal yang mutlak dimiliki siswa yang sedang belajar. Salah satu tujuan belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada umumnya dihimpun, dicetak, dan dilestarikan dalam media cetak. Media cetak berfungsi sebagai individu kalau individu tersebut dapat membaca.

Dalam mencari informasi dan memperluas cakrawala pengetahuan, membaca mempunyai arti penting. Dalam studi ilmu pengetahuan, hampir semuanya diperoleh dengan membaca. Apabila seseorang bisa membaca, dia akan dapat mengenal kata-kata, gambar-gambar, mengetahui, mengerti, dan menghayati ide yang dikemukakan oleh pengarang yang terdapat dalam suatu bacaan. Membaca menurut Ase S. Muchyidin (1988: 12) pada hakekatnya adalah proses penafsiran lambang dan pemberian makna terhadapnya.

Membaca merupakan kemampuan dan keterampilan untuk membuat suatu penafsiran terhadap bahan yang dibaca. Yang dimaksud dengan kepandaian membaca tidak hanya menginterpretasikan huruf-huruf, gambar-gambar, dan angka-angka saja, akan tetapi yang lebih luas daripada itu ialah kemampuan seseorang untuk dapat memahami makna dari sesuatu yang dibacanya. Batasan membaca menurut Edward L. Thorndike yang dikutip oleh Nurhadi (1987: 13) adalah: “Reading as Thinking dan Reading as Reasoning”, yang artinya adalah, bahwa proses membaca itu sebenarnya tidak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar.

Dalam proses membaca ini, terlihat aspek-aspek berpikir seperti: mengingat, memahami, membeda-bedakan, membandingkan, menemukan, menganalisa, mengorganisasikan, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Jadi dalam membaca diperlukan intelektual yang tinggi. Salah satu aspek intelektual adalah minat. Seseorang yang mempunyai minat dan perhatian yang tinggi terhadap bacaan tertentu dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap minat tersebut dibandingkan dengan orang yang kurang berminat terhadap topik tersebut.

Membaca adalah aktivitas yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan, dan bukan dari kemampuan yang bersifat instingtif atau naluri yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu proses membaca yang dilakukan oleh orang yang dapat membaca merupakan usaha mengolah dan menghasilkan sesuatu melalui penggunaan membaca. Menurut Nurhadi (1987: 123), ada empat modal yang harus dimiliki oleh seseorang untuk memperlancar proses membacanya, antara lain: “pengetahuan dan pengalaman, kemampuan berbahasa (kebahasaan), pengetahuan tentangn teknik membaca, dan tujuan membaca”.

Dalam membiasakan diri membaca, terlebih dahulu perlu memahami secara gamblang apa sebenarnya yang dimaksud dengan membaca. Pengalaman menunjukkan adanya keragaman pengertian tentang membaca sehingga kekurangtepatan pengertian. Hal ini akan membawa dampak terhadap kebiasaan membaca.

Salah satu rumusan pengertian membaca adalah proses pengintegrasian simbol dan pemberian makna terhadapnya. Dalam rumusan ini terdapat tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: simbol, interpretasi, dan makna. Simbol merupakan bahan pokok suatu bacaan yang pada umumnya diasosiasikan dengan huruf, kata, kalimat, dan tanda-tanda bacaan. Keakraban pembaca terhadap simbol-simbol bacaan ini akan mempengaruhi proses interpretasi terhadapnya. Sudah barang tentu sajian bahan atau simbol ini terkait dalam bahasa sajian yang disebut bahasa tulisan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami suatu bahan bacaan, antara lain:

  1. Terdapat sejumlah kata yang sama, mungkin arti atau maknanya berbeda apabila dikaitkan dengan konteks kalimat yang berlainan.
  2. Kalimat menunjukkan suatu pengertian tertentu, apabila disertakan faktor intonasi dalam membacanya akan menunjukkan makna yang berlainan.
  3. Disertakan tanda-tanda baca akan mempertegas secara khusus pesan penulis yang harus dihayati oleh pembaca dalam mengartikan kalimat tersebut.
  4. Gabungan sejumlah kalimat dalam suatu paragraf atau alinea menunjukkan suatu pengertian yang lebih luas dan terintegrasi.
  5. Pendekatan gaya penulisan, apakah induktif atau deduktif perlu dipahami dalam menemukan makna sajian.
  6. Kemampuan pembaca dalam menemukan kata kunci dalam suatu kalimat atau kalimat kunci dalam suatu alinea akan mempermudah pemahaman pembaca terhadap suatu bacaan.
  7. Tajuk yang disajikan, apakah merupakan judul bab atau sub bab merupakan rambu-rambu awal yang harus digaris bawahi dalam menemukan makna suatu bacaan. (Muchyidin, 1985: 4).

Dari rambu-rambu tersebut, yang harus dipahami betul adalah kemampuan dalam menemukan konsep berpikir pengarang dibalik uraian yang tertulis. Apabila hal ini telah ditemukan dan disusun dengan kalimat sendiri, maka makna suatu tulisan akan mudah dirumuskan dan lama tersimpan dalam daya ingatan.

Membaca bukan hanya untuk mengetahui untaian kata-kata, tetapi membaca mempunyai makna menterjemahkan dan menginterpretasikan tanda-tanda atau lambang-lambang dalam bahasa yang dipahami oleh yang membacanya. Agar mampu menginterpretasikan lambang-lambang dalam bahasa memerlukan proses yang panjang karena kemampuan membaca melibatkan berbagai proses lain, di antaranya: proses ingatan, proses penilaian, proses pemikiran, proses penghayalan, proses pengorganisasian bahan bacaan dan pemecahan soal.

Kemampuan membaca siswa dapat diidentifikasi dengan faktor-faktor yang dimiliki siswa, yakni: (1) cara berpikir siswa yang ditandai dengan “… interaction requires: the extraction of information and an active response to the ideas” (Harris, 1980: 17), (2) domain afektif dalam membaca komprehensif yakni kemampuan “… mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengaplikasikan apa yang telah dibacanya…” (Harris, 1980: 247), dan (3) tujuan membaca adalah suatu titik tolak yang penting dalam membaca komprehensif karena tujuan membaca itu memfokuskan pembaca kepada aspek spesifik yang terseleksi.

Kemampuan membaca komprehensif yang melibatkan daya pikir dan daya ingatan, kadang-kadang dipakai sebagai petunjuk tingkat intelegensi siswa. Oleh karena itu, membaca merupakan kecakapan daya tangkap pembaca dalam melakukan komunikasi dengan penulisnya. Hal ini berarti, bahwa membacapun adalah suatu bentuk komunikasi antara pembaca dan media cetak yang dibacanya sebagai wakil dari penulisnya. Suatu komunikasi yang baik menuntut suatu pengalaman linguistic yang erat hubungannya dengan segi-segi ekspresi. Karena itulah membaca merupakan kegiatan intelektual yang dapat mendatangkan pandangan, sikap, dan tindakan yang positif.

Menurut Sunindyo (1976: 2) membaca di dalam sekolah adalah:

  1. dapat mempermudah dalam mempelajari berbagai mata pelajaran.
  2. berguna untuk menambah, memperluas, memperdalam pelajaran yang telah didapat dari guru.
  3. memberi kemampuan guna membanding-bandingkan, meneliti dan menguji pelajaran di kelas sehingga dengan demikian dapat memenuhi pelajaran dengan sungguh-sungguh.
  4. dapat meningkatkan apresiasi seni sastra dan seni-seni lainnya dan karenanya memperoleh kemampuan untuk menikmatinya.
  5. dapat memperoleh pengalaman lebih luas dari pengalaman yang telah diuraikan dalam buku yang baik dan berguna.
  6. dapat meningkatkan keterampilan dan memperluas minat terhadap kegemaran olah raga dan seni yang bermanfaat.
  7. dapat meningkatkan pengenalan terhadap diri sendiri dan orang lain.
  8. dapat mengembangkan watak dan pribadi yang baik.
  9. dapat meningkatkan selera dan gaya timbang terhadap mana yang baik dan mana yang tidak.

Sedangkan membaca di luar sekolah bermanfaat, karena:

  1. dapat mengisi waktu terluang dengan kesibukan yang berguna.
  2. dapat menambah pengetahuan di samping pengetahuan yang didapat dari sekolah.
  3. dapat meningkatkan keterampilan yang berhubungan dengan hobi, olah raga, dan seni yang sesuai dengan keperluannya sendiri.
  4. dapat mengembangkan watak dan perilaku yang baik.
  5. dapat memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan yang ada di dalam masyarakat.

Kemampuan membaca yang bermanfaat untuk belajar itu dapat dikuasi melalui pelajaran dan kebiasaan membaca yang bertujuan agar pandai membaca. Pandai membaca ditandai dengan kecepatan, kepandaian teknik membaca, dan kepandaian memahami apa yang dibaca. Pelajaran membaca biasanya di arahkan untuk kepentingan belajar. Membaca untuk kepentingan belajar atau biasa disebut functional reading, bertujuan agar mampu menentukan tempat bahan bacaan dan memahami bahan informasi yang terdapat dalam media cetak.

Selain itu, pelajaran membaca disempurnakan dengan melatih membaca untuk kesenangan atau recreational reading. Apabila tujuan pelajaran kemampuan membaca telah tercapai, maka tingkat kemampuan membaca dapat dikembangkan lebih lanjut dengan tata cara membaca ekstensif dan intensif. Membaca ekstensif adalah membaca secara luas dalam waktu yang singkat. Membaca ekstensif dapat tercapai apabila siswa memiliki teknik-teknik membaca yang tepat.

Menurut Broughton yang dikutif oleh Tarigan (1985: 31), dalam membaca ekstensif ada beberapa kegiatan, yakni “… survey, reading, skimming, superficial reading”. Kemampuan membaca ekstensif sangat diperlukan oleh siswa yang sedang memahami konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan. Pendalaman ilmu lebih lanjut dapat diperluas setelah siswa memahami konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan dengan baik. Untuk membaca ekstensif ini pada umumnya pembaca menggunakan teknik membaca selecting, skipping, skimming, dan scanning. Dalam membaca ekstensif, keempat teknik membaca ini biasanya dipakai berurutan, terutama dalam rangka membaca fokus.

Membaca intensif adalah membaca untuk studi. “Membaca studi adalah membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan baik pikiran pokok maupun pikiran jabaran, sehingga pemahaman yang komprehensif (mendalam dan padat) tentang isi buku tercapai” (Tampubolon, 1987: 170).
Membaca intensif mencakup antara lain membaca telaah isi, yang menurut Henry Guntur Tarigan (1985: 39) terbagi atas “… membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, membaca ide”.

Untuk membaca telaah isi dipergunakan beragam teknik membaca, misalnya SQ3R yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi SURTABAKU (Survey, Tanya, Baca, Kutip, dan Ulangi). Joffe yang dikutip oleh Tarigan menganggap, bahwa untuk membaca telaah isi ini perlu digunakan PQ3R (Prepare, Question, Read, Recite and Review). PQ3R ini digambarkan oleh Tarigan (1985: 35) sebagai berikut:

Kemampuan membaca telaah isi ini banyak manfaatnya bagi siswa, karena kemampuan membaca seperti itu akan memberikan kemampuan untuk memahami informasi yang terdapat dalam media cetak. Membaca pemahaman ini banyak berkaitan dengan kemampuan menafsirkan dan mahir menginterpretasikan isi bahan bacaan.

Kemampuan membaca telaah isi oleh banyak ahli dikatakan sebagai dasar untuk dapat membaca kritis. Membaca kritis adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analisis dan bukan hanya mencari kesalahan. (Tarigan, 1985: 89). Membaca kritis merupakan salah satu kegiatan membaca intensif. Karena dengan memiliki sifat mencoba membuat analisa kritik suatu bahan bacaan berarti pembaca itu membaca telaah isi secara intensif.

Proses pengolahan membaca secara kritis dimaksudkan dengan di dalamnya berisi usaha-usaha memahami secara kritis makna yang tersirat (implisit), menganalisis, mengorganisasikan bahan bacaan, menyusun kesimpulan, atau bahkan mengadakan penilaian-penilaian.

Menurut Nurhadi (1987: 145), latihan untuk meningkatkan sikap kritis itu meliputi:

  1. Kemampuan mengingat dan mengenali, yang meliputi: kemampuan mengenali ide pokok paragraf, kemampuan mengenali tokoh-tokoh cerita dan sifat-sifatnya, kemampuan menyatakan kembali ide pokok paragraf, kemampuan menyatakan kembali fakta-fakta detail bacaan, serta kemampuan menyatakan kembali unsur-unsur perbandingan, hubungan sebab akibat, karakter tokoh, dan sebagainya.
  2. Kemampuan menginterpretasi makna tersirat yang meliputi: kemampuan menafsirkan ide pokok, menafsirkan gagasan utama bacaan, menafsirkan ide-ide penunjang, membedakan fakta-fakta atau detail bacaan, memahami secara kritis hubungan sebab akibat, serta memahami secara kritis unsur-unsur perbandingan.
  3. Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dalam bacaan, yang meliputi: kemampuan mengikuti petunjuk-petunjuk dalam bacaan, menerapkan konsep atau gagasan utama bacaan ke dalam situasi baru yang lebih problematik, serta menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi.
  4. Kemampuan menganalisis isi bacaan yaitu kemampuan pembaca melihat komponen-komponen atau unsur-unsur yang membentuk sebuah kesatuan, yaitu meliputi gagasan-gagasan utama, kesimpulan, pernyataan dan sebagainya, lalu pembaca diharap melihat fakta, detail-detail penunjang, atau unsur pembentuk yang lain yang tak tersebutkan secara eksplisit, yang antara lain adalah: kemampuan memberikan gagasan utama bacaan, memberikan detail-detail atau fakta penunjang, mengklasifikasikan fakta-fakta, membandingkan antara gagasan yang ada dalam bacaan, serta membandingkan tokoh-tokoh dalam bacaan.
  5. Kemampuan membuat sintesis, yang meliputi: kemampuan membuat kesimpulan bacaan, mengorganisasikan gagasan utama bacaan, menentukan tema bacaan, menyusun kerangka bacaan, menghubungkan data-data sehingga memperoleh kesimpulan, serta membuat ringkasan.
  6. Kemampuan menilai isi bacaan, yang meliputi: kemampuan menilai kebenaran gagasan utama bacaan secara keseluruhan, menilai dan menentukan bahwa sebuah pernyataan adalah sekadar opini saja, menilai atau menemukan bahwa sebuah bacaan diangkat dari realitas atau fantasi pengarang, menentukan tujuan pengarang, menentukan relevansi antara tujuan dengan pengembangan gagasan, menentukan keselarasan antara data yang diungkapkan dengan kesimpulan yang dibuat serta menilai keakuratan dalam penggunaan bahasa, baik dalam tataran kata, frase, atau penyusunan kalimatnya.

Kegiatan membaca intensif lainnya adalah membaca rekreatif, yaitu membaca untuk kesenangan sebagai pengisi waktu senggang. Salah satu aspek dari membaca intensif, membaca rekreatif dapat melatih sikap kritis, latihan pencarian ide dan latihan memahami apa yang disampaikan penulisnya. Membaca rekreatif memiliki tingkatan tersendiri sesuai dengan minat dan tingkat tangkap pembacanya. Karena itulah banyak kriteria-kriteria yang ditetapkan untuk mempersiapkan buku-buku rekreatif ini bagi siswa. Kriteria-kriteria tersebut antara lain norma-norma moral yang baik sesuai dengan falsafah hidup pembaca pada umumnya, norma-norma kritis, norma-norma estetik, dan kalau mungkin norma sastra.

Untuk mencapai masyarakat yang berpengetahuan harus dimulai dari fase reading hobby (kegemaran membaca) ke fase reading minded (nafsu untuk membaca), yang selanjutnya ditingkatkan menjadi reading habit (kebiasaan membaca), yang diharapkan meluas menjadi reading society (masyarakat yang gemar membaca) sesuai dengan yang diharapkan.
Dari paparan tersebut, peran perpustakaan tak dapat diabaikan untuk mempersiapkan siswa mahir membaca. Perpustakaan tak dapat tidak merupakan alat bantu pengajaran. Perpustakaan merupakan salah satu alat yang dapat menunjang program peningkatan minat baca serta prestasi belajar siswa.***

*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.

Tinggalkan Balasan