Makna dan Peran Perpustakaan Sekolah (6/Habis)

Ilustrasi, (Tribunnews.com).

Share

Oleh Undang Sudarsana

F. Kreativitas Pustakawan Sekolah
Dalam kenyataannya, kecakapan pustakawan yang efektif adalah kunci menuju pelayanan perpustakaan yang baik. Ia harus mengerti kebutuhan siswa serta memiliki kemampuan mengelola dan mengarahkan siswa. Ia harus memiliki minat yang beragam dan luas, penuh vitalitas, kesehatan yang baik, piawai, antusias, energik, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Ia harus familiar dengan buku-buku siswa dan mampu melakukan teknik berorganisasi dalam perpustakaan. Persiapan minimum pustakawan sekolah adalah upaya untuk memiliki ijazah guru dan ijazah perpustakaan pada pendidikan tinggi.

Perpustakaan sekolah di Indonesia, pada umumnya tidak memiliki tenaga pustakawan yang profesional. pengelola perpustakaan sekolah biasanya seorang guru yang tugas mengajarnya sedikit. Personalia ini dianjurkan untuk menambah pengetahuannya tentang dasar pendidikan keperpustakaanan. Pada pendidikan keperpustakaanan ini dipelajari tentang administrasi dan organisasi perpustakaan sekolah.

Pada beberapa sekolah, di mana pustakawan tidak dapat bekerja secara penuh pada perpustakaan sekolah dapat dibuat suatu kesepakatan antara lain dengan mengerjakan seorang ahli perpustakaan untuk beberapa sekolah dan menunjuk seorang guru dari sekolah yang bersangkutan sebagai guru pustakawan. Pustawakan memberikan tenaganya kepada sekolah minimal satu kali dalam satu minggu, dan jadwal dibuat sedemikian rupa sehingga cukup luwes dan menjamin bahwa guru dan murid dapat bertemu secara berkala.

Selain itu, pustakawan dapat melakukan perencanaan serta pelaksanaan program pengajaran di perpustakaan. Pustakawan, guru pustakawan, dan guru mempersiapkan pula buku-buku untuk apresiasi siswa yang terdiri dari beragam minat dan kelompok. Jadwal harus ditetapkan untuk mengorganisasi dan mempersiapkan materi sumber. Pembagian tugas dan wewenang dalam organisasi dan administrasi perpustakaan sekolah, membuat peringkat dalam jenjang kepangkatan pekerja perpustakaan di sekolah.

Peringkat dalam jenjang kepangkatan ini, menuntut pula kreativitas pustakawannya sesuai dengan kedudukannya. Jenjang personil perpustakaan pada perpustakaan sekolah adalah:

  1. Pustakawan
    Kegiatan pustakawan dipusatkan kepada tanggung jawab yang telah ditetapkan sebagai berikut:
    a. Memiliki sikap profesional dan sifat kepemimpinan dalam mengikuti perkembangan pada lapangan kerjanya, mempromosikan perpustakaan dan secara berangsur-angsur menguji buku-buku siswa, mengamati kebutuhan-kebutuhan, berpartisipasi dalam minat siswa dan guru, mempergunakan perpustakaan untuk mengkonstribusi pertumbuhan mental dan perkembangan siswa, mengembangkan program pelayanan perpustakaan yang berkaitan dengan berbagai kegiatan sekolah.

b. Memiliki keterampilan profesional dalam menyeleksi materi kurikulum sehingga buku yang dipilih dapat memuaskan dan menarik bagia siswa dan guru. Dalam hal ini harus diusahakan koleksi yang memenuhi kebutuhan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan belajar setiap kelas. Ia harus mampu menyeleksi materi yang dapat menolong perkembangan dan memperkaya pribadi siswa serta memperkenalkan materi tersebut kepada siswa. Pustakawan juga harus mempersiapkan materi untuk mempermudah penggunaan dan pemanfaatan perpustakaan secara efektif.

c. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan pendidikan penggunaan perpustakaan dengan merencanakan suatu kursus kumulatif dari pengajaran sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan kemampuan-kemampuan setiap tingkatan kelas. Pustakawan bekerjasama dengan guru-guru untuk melihat keterampilan yang diajarkan dan murid memiliki kesempatan untuk berpraktek serta mendorong dengan cepat setiap siswa untuk menjadi pemakai perpustakaan yang lebih matang.

d. Membuat evaluasi dan laporan program dengan membuat catatan informasi rekaman dan laporan perkembangan kepada pimpinan serta mampu menjelaskan laporan tentang pelayanan perpustakaan kepada masyarakat sekolah. Pustakawan mengatur dan menguji program kerja perpustakaan setiap akhir tahun.

  1. Pustakawan Pengawas
    Pengawas perpustakaan mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan perpustakaan-perpustakaan sekolah. Pengawas perpustakaan biasanya ditunjuk oleh Kantor Dinas Pendidikan Propinsi. Pengawas perpustakaan bertugas memberikan informasi kepada staf perpustakaan, Kepala Sekolah, guru, dan siswa dengan cara yang terbaik dalam menguji penggunaan perpustakaan.

Pengawas perpustakaan bersama pustakawan merencanakan program kegiatan jangka pendek dan jangka panjang. Ia juga mempersiapkan suatu pedoman untuk staf perpustakaan dan mempersiapkan segala rancangan kerjasama antar perpustakaan.

Kewajiban pengawas perpustakaan, antara lain:
a. Mengawasi penyusunan anggran perpustakaan
b. Mengawasi pemesanan koleksi atau perlengkapan perpustakaan lainnya.
c. Mengawasi perlengkapan perpustakaan
d. Membagikan perlengkapan perpustakaan sebagaimana dibutuhkan oleh sekolah-sekolah yang memiliki dana terbatas.
e. Mempersiapkan perhitungan pembelanjaan yang cermat bagi sekolah-sekolah untuk tujuan pengadaan perpustakaan.
f. Sebagai koordinator program perpustakaan, ia bertanggung jawab untuk mengawasi perpustakaan sekolah dalam mempersiapkan program dasar pelayanan perpustakaan.
g. Pustakawan pengawas memeriksa koleksi yang harus disesuaikan dengan kebutuhan kelas, kelompok, dan minat individu, kemampuan dan potensi serta materi-materi yang tepat dengan kurikulum.
h. Mengarahkan teknik dan sistem pengelolaan perpustakaan.
i. Mengevaluasi kesinambungan koleksi buku dan materi dikaitkan dengan kepentingan belajar mengajar.
j. Mengawasi bangunan, perlengkapan dan pelayanan perpustakaan.

  1. Asisten Pustakawan
    Sekolah yang memiliki jumlah siswa lebih dari 1000 orang, tidak akan mungkin dapat mengelola program perpustakaan yang efektif dengan pelayanan hanya oleh satu orang pustakawan. Pekerjaan seperti mengetik, merekat label-label pada buku, menyusun materi adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan professional. Pekerjaan semacam ini dapat dikerjakan oleh asisten pustakawan. Oleh karena itu seyogianya pustakawan yang memiliki kemampuan professional dapat mengkoordinir asisten pustakawan yang dihimpun dari masyarakat yang berminat kepada kemajuan perpustakaan.

Pada Negara-negara yang sudah maju, anggota masyarakat dan para orang tua siswa dapat menjadi sukarelawan yang secara resmi membantu pelayanan perpustakaan di sekolah dengan menjadwalkan waktunya pada setiap minggu.

Beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan oleh asisten pustakawan antara lain:
a. memproses buku yang mencakup: membuka buku-buku yang baru datang, mengecek ulang buku tersebut dengan kartu pemesanan, menyusun secara alfabetis, mencap, menuliskan informasi dalam buku induk, membuat atau mencetak nomor klasifikasi pada punggung buku, merekatkan kantong buku dan sisipan kertas tanggal kembali dan mengetik kartu accession.

b. mengerjakan kartu katalog dan menyusunnya, mencakup: mengetik kartu katalog, menyeleksi kartu katalog, mengurut alfabetis kartu-kartu katalog, menyusun kartu katalog pada susunan nomor klasifikasi dan menyusun kartu-kartu dalam laci katalog.
c. mengerjakan penyusunan informasi ringan, menandai dan memotong bahan-bahan untuk kliping, menyusun dan menempelkan peta-peta dan gambar-gambar, mencap folder-folder baru, menyusun pamflet dan kliping sesudah subyek-subyeknya diketahui.
d. pekerjaan miscellaneous yakni mengetik kartu buku, memperbaiki buku-buku yang rusak, mengetik surat-surat, menyusun jaket buku, membuat poster, membantu mendapatkan materi untuk pameran, mempersiapkan pameran-pameran dan mentabulasikan statistic.

  1. Murid Pustakawan
    Dalam kegiatan rutin sehari-hari terutama yang berkaitan dengan sirkulasi, sangat baik apabila setiap siswa pada setiap kelas memperoleh tugas bekerja di perpustakaan. Murid pustakawan ini adalah anggota kelas yang dijadwalkan untuk bekerja di perpustakaan. Murid pustakawan dari setiap kelas bertanggung jawab untuk mengingatkan anggota kelasnya tentang hari peminjaman dan pengembalian buku.
    Mereka memperoleh pengalaman yang bermanfaat, dan dapat melakukan tindakan denda kepada teman-temannya yang terlambat mengembalikan buku. Pekerjaan ini juga mendorong hasrat dan minat siswa untuk membiasakan diri menggunakan fasilitas perpustakaan.

Tugas utama murid pustakawan adalah:
a. memelihara kebersihan dan keteraturan ruangan
b. memelihara bahan-bahan di ruang sirkulasi
c. mengerjakan peminjaman dan pengembalian buku
d. melakukan shelving
e. melakukan kewajiban pekerjaan miscellaneous.

G. Kerjasama Antara Pustakawan, Guru, dan Kepala Sekolah
Kerjasama antara pustakawan, guru, dan Kepala Sekolah dilaksanakan dalam rangka menanamkan pengertian antara pustakawan dengan pemakai dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan pelayanan dan pendayagunaan perpustakaan. Pendayagunaan perpustakaan oleh pemakai merupakan sasaran dari upaya yang dilakukan oleh pustakawan, guru dan Kepala Sekolah dalam memotivasi siswa.

Kerjasama antara pustakawan, guru, dan Kepala Sekolah berkisar pada aspek: (1) pemilihan bahan pustaka; (2) program penggunaan perpustakaan.

Dalam pemilihan bahan pustaka, pustakawan harus memperhatikan kurikulum sekolah serta kebutuhan guru dan siswa. Pemilihan bahan pustaka dapat ditempuh dengan cara: pustakawan menyediakan daftar buku kemudian diserahkan kepada guru dan Kepala Sekolah untuk dipilih buku apa yang kira-kira dibutuhkan oleh guru dan siswa, setelah itu pustakawan menerima kembali daftar buku yang menjadi pilihan. Pemilihan bahan pustaka akan lebih efektif dan efisien apabila melibatkan wakil siswa (OSIS), karena dengan mengikutsertakan siswa, koleksi perpustakaan akan sangat sesuai dengan selera dan minat baca para siswa.

Program penggunaan perpustakaan perlu diberikan, mengingat sebagian besar para siswa belum memiliki pengetahuan tentang cara menggunakan fasilitas perpustakaan secara efisien dan efektif. Oleh karena itu, bimbingan cara menggunakan fasilitas perpustakaan seperti katalog, ensiklopedia, abstrak, indeks, dan lain sebagainya perlu diberikan kepada siswa.

Adanya kerjasama antara pustakawan, guru, dan Kepala Sekolah sangat diperlukan agar koleksi perpustakaan sesuai dengan kebutuhan para pemakainya, sehingga siswa mau mendayagunakan perpustakaan dalam setiap kegiatannya baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Tiga komponen utama sebagai pelaksanaan kerjasama yang dilakukan dalam upaya pendayagunaan perpustakaan, yaitu Kepala Sekolah atau guru, siswa, dan pustakawan.

Pustakawan bisa mengadakan musyawarah dengan guru baik secara individu maupun kelompok untuk memberikan informasi tentang bahan-bahan pelajaran atau koleksi yang tersedia di perpustakaan.

Selain itu pustakawan dapat meminta saran kepada guru tentang bahan-bahan pustaka yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. L.J. Taylor (1980: 30) mengemukakan, bahwa kerjasama antara pustakawan dan guru meliputi:
1) Ensuring that the resource center is maximum benefit to pupils both for their curricular needs and for their recreation and leisure needs;
2) Ecouraging the development of reading habits, stimulating curiosity and directing the enqueiring mind of pupils;
3) Advising and assisting individual pupils to find the books and information they require; and
4) Preparing teaching materials.

Pendapat di atas menunjukkan, bahwa kerjasama pustakawan dan guru harus dapat meyakinkan siswa dan menjamin bahwa perpustakaan merupakan pusat sumber informasi yang dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa untuk kebutuhan belajar, kebutuhan rekreasi, dan merangsang keinginan untuk memanfaatkan perpustakaan.***

*Penulis adalah Dosen Tetap Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.

DAFTAR PUSTAKA
American Library Association (ALA). 1963. Children Services in Public Libraries. Chicago: AVA.

Ametembun, N.A. 1982. Penyusunan Program Kerja Kepala Sekolah, Penuntun Bagi Para Kepala Sekolah Dasar dan Menengah. Bandung: FIP IKIP Bandung.
Douglas, Marry Pecock. 1971 The Primary School Library its Services. Paris: Unesco.

Harris, Larry A. and Carls B. Smith. Reading Instruction: Diagnostic Teaching in the Classroom. New York: Ricard C. Owner Publisher.

Indonesia, Departemen Pendikan dan Kebudayaan. 1978. Pedoman/Standar Perpustakaan di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Indonesia, Perpustakaan Nasional. 1994. Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Marks, Sr. James Robert (et.al.). 1978. Handbooks of Educational Supervision: A Guide for the Praktitioner. Second edition. Boston: Alin and Bacon Inc.

Muchyidin, Ase Suherlan. 1979. Pelayanan Perpustakaan: Dengan Referensi untuk Perpustakaan Sekolah. Bandung: Biro Perpustakaan IKIP Bandung.

Nasution, A.S. 1979. Perpustakaan Sekolah: Penuntut Untuk Membina, Memakai dan Memelihara Perpustakaan. Jakarta: Depdikbud.

————–. (1982). Didaktik Azas-azas Mengajar. Bandung: Jemars.

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru.

Nurhadi, Mulyani. 1979. Pelayanan Peminjaman dan Pelayanan Referensi, Jakarta: Sub Proyek Pengembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi.

Rosidi, Ayip. 1973. Pembinaan Minat Baca, Apresiasi dan Penelitian Sastra. Jakarta: Panitia Tahun Buku Internasional DKI.

Semiawan, Conny. 1984. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.

Sunindyo. 1976. “Hubungan Antara Bahan-bahan Perpustakaan dengan Proses Belajar”. Berita Perpustakaan Sekolah. vol. 1, No. 1. Oktober.

————–. 1976. “Bimbingan Membaca dan Promosi Perpustakaan”. Buletin Pendidikan Guru, No. 11, Pebruari.

Tampubolon. 1987. Kemampuan Membaca, Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Membaca Ekspresif. Bandung: Angkasa.

—————. 1985. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Taylor, L.J. 1976. Librarian’s Handbook. 2nd. London: The Library Association.

Trimo, Soejono. 1992. Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.(1994) Jakarta: Sinar Grafika.

Tinggalkan Balasan