Kalender Sunda, Terlengkap Dibandingkan yang Lain

Kalender Sunda memiliki penanggalan berbeda dengan Kalender Masehi atau Kalender Hijriah, (Foto: Majalah Kertaraharja).

Share

DIDIKPOS.COM – Kalender Sunda digagas oleh budayawan Ali Sastramidjaja atau yang akrab disapa Abah Ali, warga Sukajadi Bandung. Menurut namanya, mungkin akan terlintas di benak Anda kalender yang menggunakan bahasa Sunda. Ternyata yang dimaksud Kalender Sunda itu adalah penanggalan menurut adat Sunda yang memiliki penanggalan berbeda dengan Kalender Masehi atau Kalender Hijriah.

Sistem penanggalan merupakan salah satu kebutuhan esensial bagi manusia untuk mengetahui waktu dalam melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya. Dalam sistem penanggalan Nusantara terdapat berbagai macam siklus waktu yang berbeda-beda di tiap daerah termasuk Kalender Sunda.

Penanggalan Sunda digunakan sejak ratusan tahun lalu oleh para leluhur. Butuh waktu hingga 10 tahun bagi Abah Ali untuk meneliti naskah-naskah kuno sejarah Sunda dan menerbitkannya pada 2015.

Miranda, budayawan Jawa Barat, mengatakan, Abah Ali meneliti Kalender Sunda sejak kakeknya masih hidup.

“Semenjak Abah Ali masih bersekolah dan belajar ke kakek,” kata Miranda, baru-baru ini.

Kalender Sunda memiliki jumlah bulan sebanyak 12 seperti Masehi dan 4 minggu setiap bulannya. Namun, perbedaannya, di Kalender Sunda setiap bulan hanya 30 hari.

Nama-nama bulan pun tidak mengikuti Kalender Masehi. Penamaan yang ada di Kalender Sunda adalah Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palaguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Untuk nama hari pun berbeda. Minggu di Kalender Sunda disebut Radite, Senin disebut Soma, Selasa (Anggara), Rabu (Buda), Kamis (Respati), Jumat (Sukra), dan Sabtu disebut Tumpek.

Miranda mengungkapkan, tahun 2005,  pas keluar Kalender Sunda,   orang masih kaget, bahkan orang Sunda sendiri. Selanjutnya, pada 2006-2007 mulai jadi polemik, karena Kalender Sunda merupakan kalender terlengkap dibandingkan kalender lainnya. Perhitungan Kalender Sunda mengambil dari hitungan alam.

“Sejak di-launching-kan masyarakat sudah sangat antusias. Melihat keantusiasan itu, saya ingin Kalender Sunda segera di-perdakan. Bukan hanya warga Jawa Barat saja, Kalender Sunda ini sudah menarik perhatian salah satu Putri dari Kerajaan Kelantan Malaysia,” ungkapnya.

Saat ini keberadaan Kalender Sunda belum dikomersialisasikan atau dijual, karena masih dalam tahap sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di Jawa Barat.

Selain Miranda, Heri, budayawan dari Kabupaten Bandung mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera memperdakan keberadaan Kalender Sunda.

Selain itu Heri berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bandung untuk menetapkan tanggal Pabaru Sunda atau Tahun Baru Sunda yang jatuh pada 30 Agustus nanti untuk dijadikan sebagai hari libur di Kabupaten Bandung. Saat ini hanya di beberapa daerah saja yang melakukan peringatan Pabaru Sunda.

“Di Kabupaten Bandung baru di 3 kecamatan saja yang melakukan perayaan, di Ciwidey, Pameungpeuk, dan Pacet. Jadi, ketika diliburkan masyarakat tahu bahwa libur tersebut merupakan peringatan Tahun Baru Sunda,” harapnya.

“Ketika masyarakat menanyakan hari tersebut libur dan menanyakan kenapa libur, di sana juga masyarakat akan tergugah dan penasaran akan Kalender Sunda,” pungkasnya. (wisma/des)***

Sumber: Majalah Kertaraharja