Komar

Ilustrasi, (Foto: Hidayatullah.com).

Share

Cerpen Uun Nugraha

SUDAH tiga hari ini neneknya Komar tidak ada yang manggil untuk bekerja bantu-bantu nyuci atau masak di rumah tetangganya. Apalagi sekarang neneknya Komar sedang sakit sehingga hanya berdiam diri di rumah. Sebenarnya, sebelum sakit pun, neneknya Komar sudah jarang ada yang nyuruh untuk bantu-bantu tetangga. Entah karena tenaga neneknya Komar sudah tidak dibutuhkan atau karena tetangganya merasa kasihan pada neneknya Komar yang memang sudah tua. Untunglah masih ada tetangga yang perhatian dengan kehidupan Komar dan neneknya, setiap hari ada saja yang mengirim nasi atau makanan ke rumah neneknya Komar. Kalau dulu sewaktu neneknya Komar masih banyak yang nyuruh untuk bekerja bantu-bantu di tetangga, makan sehari-hari masih tercukupi. Tapi sekarang, Komar harus sering menahan rasa lapar.

“Sekarang mencuci sudah banyak pakai mesin, Mar. Jadi tetangga sudah tak nyuruh Nenek lagi buat mencuci pakaian mereka.” Kata neneknya Komar waktu Komar bertanya mengapa banyak tetangga yang tak menyuruh nyuci pada neneknya.

“Bu Karsih juga sekarang punya mesin cuci, Nek?” tanya Komar lagi.

“Tidak. Mungkin Bu Karsih lagi tak punya uang buat ngasih ke nenek. Kan tidak setiap hari tetangga kita punya uang, Mar,” jawab neneknya Komar. “Kita harus sabar ya, Mar. Harus bisa menerima keadaan,” lanjut neneknya Komar, tangannya menyeka air mata yang mengalir di pipinya yang keriput.

Terkadang, kalau malam hari, Komar suka bertanya pada neneknya, mengapa dia tak seperti anak-anak yang lain. Deni, Saeful, Rahayu atau Erwan dan temannya yang lain begitu gembira bermain, tidak ikut bantu-bantu orang tuanya untuk nyuci atau bersih-bersih nyabutin rumput di halaman rumah orang. Dirinya tidak sebahagia mereka. Apalagi kalau melihat Rahayu, uang jajan untuk sekolah saja sepuluh ribu. Suka bagi-bagi permen di sekolah. Erwan, tas sekolahnya bagus ada gambar superman, botol minumnya yang merah selalu terselip di saku tasnya. Komar juga pingin tas seperti itu, Nek!

Namun setiap kali Komar bertanya mengapa dia tak seperti yang lain, neneknya selalu langsung menjawab, “Mar, nasib orang berbeda-beda. Kita harus ikhlas menerima nasib kita sendiri. Disuruh kerja apapun kita harus ikhlas, asalkan halal. Yang penting kita tidak mencuri milik orang dan tak berlaku curang, hidup kita akan senang.” Dari sudut matanya terlihat linangan air mata. Komar langsung terdiam. Dalam hatinya ada rasa menyesal telah bertanya seperti itu. Komar pun tiduran di sisi neneknya, sarungnya ia pakai untuk menutupi kepalanya karena air matanya pun keluar.

Sampai sekarang, Komar hanya melihat wajah ibu dan bapaknya dari selembar photo pernikahan mereka yang disimpan oleh neneknya. Kata neneknya, ibu Komar meninggal waktu melahirkan Komar. Saat Komar berusia enam bulan, bapaknya pun meninggalkannya dengan alasan untuk mencari pekerjaan di kota untuk membiayai kehidupan Komar beserta neneknya. Sejak neneknya mengatakan bahwa bapaknya Komar pergi ke kota untuk bekerja, Komar setiap hari selalu berharap bapaknya datang membawa oleh-oleh buat mereka. Sambil duduk di depan rumah, Komar suka membayangkan bapaknya datang dari kejauhan menuju rumahnya. Komar ingin menyambutnya di halaman, Komar mau memeluknya, Komar mau menceritakan kesedihannya, ingin menceritakan bahwa neneknya sedang sakit. Komar akan bantu menjinjing oleh-oleh dari kota. Menggotong sekarung beras yang dibawa bapaknya. Tas yang dibawa bapaknya tentu penuh dengan kue-kue. Tentunya tas bergambar Superman, buku dan alat tulis dibelikan juga dari kota. Tapi, mengapa bapak tak juga datang? Apakah bapak sudah lupa Komar dan neneknya? Komar ingin melihat nenek sembuh, Pak. Komar ingin membelikan makanan buat nenek.

Di sekolah, waktu istirahat, semua murid keluar kelas, bermain di lapangan atau jajan di warung dekat sekolah. Hanya Komar yang masih duduk di bangkunya.

“Mar, ayo istirahat ke luar!” kata Bu Maryati, wali kelasnya.

“Gak apa-apa, Bu. Komar di kelas aja,” jawab Komar sambil buka-buka buku yang sebenarnya tak dibaca. Bu Maryati tak bertanya lagi, beliau langsung menuju ke ruang kantor.

Komar beranjak dari bangkunya. Matanya mengamati sekitar, kelas sudah kosong. Ia berjalan perlahan mendekati meja Rahayu. Tas temannya itu ia buka, terlihat di dalamnya uang dua puluh ribu. Dadanya berdegup kencang, ada rasa takut di hatinya karena teringat nasihat neneknya. Tapi ia pun ingin membelikan makanan buat neneknya yang sedang sakit. Ingin memebeli beras untuk dimasak nanti di rumah. Komar tak mau melihat neneknya terus sakit berkepanjangan. Uang itu pun ia masukkan ke saku celananya. Setelah tas Rahayu dirapihkan lagi, Komar keluar ikut bermain dengan teman-temannya. Sebenarnya ia ingin cepat-cepat pulang, ingin membeli beras lengkap dengan lauknya. Terbayang nikmatnya makan nasi hangat dan masakan bikinan nenek.

Bubar sekolah, Komar langsung menuju warung Mang Uci. Uang dari tas Rahayu dibelanjakan beras dua liter, ikan asin se-ons dan minyak goreng seperempat. Mang Uci tak bertanya, disangkanya Komar ada yang ngasih uang. Malahan dia memberi tambahan mie instan dua bungkus.

Sampai di depan rumah, kelihatan pintunya terbuka sedikit. Terlihat pula sepatu vantopel seperti sepatu yang digunakan Bu Maryati. Komar tak banyak berpikir, ia ingin cepat-cepat memberikan bawaannya pada neneknya.

“Neekkk…! Neneeekkk, lihat nih Komar bawa apa…” sambil buka pintu Komar manggil-manggil neneknya. Namun Komar tertegun dekat pintu, ia mendapati neneknya sedang disuapi oleh Bu Maryati. Tubuh neneknya nyender ke kusen pintu kamar. Di sampingnya terlihat ada serantang nasi dan lauknya. Bu Maryati yang bawanya.

“Mar, duduklah, Nak!” tangan Bu Maryati menggapai tangan Komar mengajak duduk. Mata Komar mulai memerah menahan tangis.

“Mar, dari mana dulu. Ini nasi dari Bu Guru buatmu. Apa yang kamu bawa itu, Nak?” neneknya Komar berkata lemah.

“Neneeekkk…kenapa, Nek?” Komar merangkul neneknya, air matanya tumpah di pangkuan neneknya. Belanjaannya dijatuhkannya ke lantai. Komar tak sanggup menjelaskannya. Takut dan malu pada nenek dan gurunya.

“Ini…, ini dari…,” Komar tak melanjutkan omongannya. Tangannya makin erat memeluk neneknya, tangisnya makin menjadi.

“Kita orang miskin, Mar. Kita lapar. Tapi jika beras itu hasil dari cara yang tidak halal…,” neneknya Komar pun tak bisa melanjutkan perkataannya. Air matanya keburu tumpah. Ia seka dengan tangannya yang keriput dan lemah. Bu Maryati menyaksikan keduanya sambil tangan kirinya mengelus-elus punggung Komar yang menelungkup di lahunan neneknya. Tangan kanannya memegang satu tangan yang sudah basah karena air matanya pun mengalir deras.

Setelah beberapa saat, Bu Maryati menghibur mereka sehingga tangisnya mereda, dan akhirnya ahirnya Komar berani berterus terang. Kejadian waktu di dalam kelas diceritakan di hadapan nenek dan gurunya. Neneknya Komar meminta maaf kepada Bu Maryati. Beras dan belanjaan lainnya akan deserahkan ke Rahayu. Tapi Bu Maryati melarangnya, masalah belanjaan yang dibawa Komar akan diganti oleh Bu Maryati pada Rahayu. Segala permasalahan Komar di sekolah tadi siang menjadi tanggung jawab Bu Maryati. Malahan Bu Maryati bilang nanti sore akan membawa neneknya Komar ke dokter.***

Uun Nugraha, Kepala SDN Campedak, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.