Hikmah Idul Adha: Musuh Kita Sama

Ilustrasi, (Foto: CNNIndonesia.com)

Share

Oleh Èsèp Muhammad Zaini

MENGAPA di antara kita harus saling iri? Saling cela? Saling hina? Saling tendang? Saling terjang? Saling sikut? Saling benci?

Padahal, musuh kita sama. Siapa? Jawabannya tidak diragukan lagi. Pasti syetan. Yakin seratus persen. Sebab, syetan telah berikrar di hadapan Allah Swt., akan terus menggoda anak cucu Adam AS. Ini bentuk kekecewaan syetan terhadap ketentuan Allah Swt. yang telah mengamanahi manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Pada setiap tanggal 10-13 Zulhijjah, umat muslim sedunia yang menunaikan ibadah haji melontar tiga jumrah di Mina, yaitu: Jumrah Aqabah, Jumrah Wustha dan Jumrah Ula. Kegiatan melontar ketiga jumrah itu merupakan salah satu dari beberapa nafak tilas yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu upaya untuk mengusir syetan yang selalu mengganggu dan menggodanya saat akan menyembelih anak tercinta, Ismail AS.

Di jumrah Aqabah, Nabi Ibrahim AS tujuh kali melontari syetan hingga terbenam ke dalam tanah. Tetapi, syetan muncul lagi di jumrah Wustha. Nabi Ibrahim AS melakukan hal yang sama, hingga syetan terbenam ke dalam tanah. Syetan muncul lagi di jumrah Ula. Nabi Ibrahim AS tidak surut kesabaran dan nyalinya. Beliau melakukan hal yang sama, hingga syetan terbenam ke dalam tanah. Tetapi, tentu saja tidak mati karena syetan matinya saat dunia ini kiamat. Nabi Ibrahim AS hanya mengusir syetan yang selalu menggoda diri, anak dan istrinya.

Melontar ketiga jumrah, kita maknai bukan sekadar perbuatan fisik belaka. Tetapi, kita harus pandai mengambil hikmah. Sebab, syetan tidak kasat mata. Syetan beroperasi senyap. Keimanan kita yang menjadi bidikannya. Amal ibadah kita bisa lenyap dalam sekejap karena kita tidak bisa menjaganya dengan baik.

Kesempurnaan iman ditopang oleh tiga faktor yang ada dalam diri kita. Dalam hati meyakini adanya Allah Swt. dan Muhammad SAW sebagai rasul-Nya. Lalu, diucapkan/diikrarkan dalam mulut. Dan, terakhir dikonkretkan dalam sikap dan perbuatan. Kalau salah satu dari ketiga faktor itu tidak ada, tentu iman kita pincang.

Saya coba berimajinasi, ketiga faktor tersebut diibaratkan pilar bangunan diri. Kemudian, saya hubungkan ketiga bangunan yang ada dalam diri kita sebagai jumrah, yaitu jumrah hati/jiwa, jumrah mulut/ucap, dan jumrah tindakan/perbuatan.

Saya yakin, syetan sangat senang bersemayam dalam ketiga jumrah yang ada dalam diri kita. Yang paling berbahaya menggoyang iman kita, ketika syetan bersemayam dan bermain-main dalam hati. Di jumrah hatilah segala sesuatu ditentukan, hingga jumrah ucap dan polah mengikutinya. Jumrah hati ini paling sulit untuk dikendalikan, apalagi kalau syetan selalu menghampirinya.

Jumrah mulut pun bukan berarti mudah dikendalikan. Kita sering dengar peribahasa, lidah tidak bertulang dan lidah lebih tajam daripada pedang Zulfikar. Siapa pun bisa tergores oleh lidah. Bahkan, dalam Alquran terungkap ayat, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Apalagi, kalau syetan bertengger di lidah dan bibir (mulut). Serasa manis kita bergosip dan mengumpat. Tetapi, jikalau kita berkata baik, niscaya Allah Swt. akan memberikan pahala yang besar melebihi sedekah. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun,” (Q.S. 2: 263). Perkataan yang baik, menolak dengan cara yang baik, dan pemberian maaf ialah memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari peminta maaf.

Jumrah berikutnya, jumrah polah. Tingkah polah kita merupakan implementasi sikap kita. Apabila tingkah polah kita baik, menunjukkan sikap kita yang baik. Tingkah polah manusia cenderung untuk selalu melanggar aturan, baik aturan yang telah ditentukan Allah Swt. maupun buatan manusia. Hal tersebut karena didorong oleh hawa nafsu. Apalagi, syetan selalu mendampingi dan membisiki kita untuk melakukan hal yang bertentangan dengan aturan. Rasulullah SAW bersabda: ”Aku sangat khawatir akan kemusyrikan yang menimpa umatku; mereka tidak menyembah berhala, tidak menyembah matahari, bulan atau batu, tetapi mereka riya’ terhadap amal ibadah mereka.” (HR Ibn Majah dan Al-Hakim, dalam Ihya’ Ulumuddin).

Oleh karena itu, momentum Idul Adha dan tiga hari tasyriq sudah seharusnya menjadi episode bertafakur dan mengoreksi diri bagi seluruh manusia (karena Islam rahmatan lilalamin). Kita mempunyai musuh yang sama, yaitu syetan. Kita jaga hati, mulut, dan tingkah polah.

Selalu membersihkannya seperti melontar tiga jumrah di Mina. Tentu saja tidak menggunakan kerikil secara fisik. Kerikilnya dengan selalu mengucapkan istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Juga, asma-asma Allah Swt. serta salawat yang sangat disukai Nabi SAW. Sepanjang waktu, minimal dalam llima waktu salat wajib. Insya Allah, syetan akan merasa tidak kerasan berdampingan dengan kita.

Musuh kita sama. Syetan yang terkutuk!***

Cianjur, 8 Zulhijah 1441 H./29 Juli 2020

Penulis adalah Pemimpin Yayasan Guneman Kamilah Almunawar dan Pembina Yayasan Mama Shoheh Bunikasih, Cianjur.

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.