Pondok Pesantren Sabilunnajat Rancah Ciamis, Berkembang di Tengah Guliran Zaman

Ponpes Sabilunnajat di Sukamaju, Cileungsir, Rancah, Ciamis, (Foto: Dok. Ponpes Sabilunnajat).

Share

DIDIKPOS.COM – Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilunnajat terletak di Dusun Sukamaju, Desa Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jarak dari kota Ciamis ke lokasi pesantren sejauh 34 kilometer.

Ponpes ini didirikan pada 1965 oleh K.H. Hasan Ma’ruf dan tercatat sebagai lembaga pendidikan yang syah pada 1993. Kini, di bawah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ponpes Sabilunnajat, di pesantren ini juga terdapat SMK Ma’arif Sabilunnajat dan MTs Sabilunnajat.

Diketahui, Kyai Hasan sendiri lahir di Sukamaju, Cileungsir pada 1930 dan meninggal pada 2017.

Selepas Kyai Hasan wafat, pengelolaan Ponpes Sabilunnajat selanjutnya dilakukan oleh putra dan putrinya yaitu K.H. Aos Firdaus yang menikah dengan Hj. Enin, Hj. Ade Muflihah menikah dengan K.H. Abdussomad, dan K.H. Fifin Syarif Arifin menikah dengan Hj. Yayah Rodiyah.

Berbicara sejarah Ponpes Sabilunnajat, sebelum tahun 1965, sebenarnya kegiatan pesantren sudah berjalan. Namun, waktu itu belum terbentuk lembaga pendidikan secara resmi. Santri-santrinya berasal dari luar daerah dan ada juga yang masih satu daerah.

Catatan lainnya, sebelum bernama Sabilunnajat, ponpes ini terkenal dengan nama Pesantren Cinangsi. Nama Sabilunnajat diciptakan oleh Kyai Hasan yang berarti “Jalan keselamatan”. Nama itu mengandung harapan, semuanya selalu ada dalam jalan yang baik sesuai dengan aturan agama Islam, selamat di dunia dan di akhirat, demi mendapatkan ridha Allah SWT.

Awalnya, Ponpes Sabilunnajat, berlokasi di Cikawung, Dusun Sukamaju. Lalu, mengalami tiga kali perpindahan tempat namun masih satu daerah. Pertama di daerah Sawah Luhur sebelah barat lokasi pesantren sekarang. Kemudian pindah ke daerah Cinangsi sebelah timur lokasi pesantren kini. Dan, akhirnya pindah ke lokasi saat ini.

Lokasi yang digunakan oleh Kyai Hasan untuk membangun ponpes adalah pesawahan dan perkebunan yang rindang. Lokasi ini tepat di tengah-tengah perbukitan, jauh dari keramaian kota. Sekitar 2 hektare tanah yang digunakan untuk membangun ponpes adalah tanah warisan dari orang tua Kyai Hasan, Kyai Sanrovi – Hj. Siti Aisyah, dan sebagian ada tanah wakaf dari masyarakat serta saudara-saudaranya (K.H. Ahmadi, K.H. Sulaiman, Hj. Momoh, Hj. Mamah, dan Ita).

Pendirian pesantren ini dipicu keprihatinan Kyai Hasan terhadap masyarakat yang sangat kurang dari pendidikan, khususnya dalam pengetahuan keagamaan. Sebelum ponpes berdiri, kendati menganut agama Islam, masyarakat sangat jauh dari pengetahuan keagamaan. Masyarakat sering mengadakan Hajat Bumi, Sesajen, dan Mupunjung dengan cara mengubur kepala kambing dengan maksud persembahan kepada roh leluhur.

Kyai Hasan mendirikan ponpes dengan tujuan ingin mengubah pola pikir masyarakat yang jauh dari pengetahuan tentang agama Islam.

Alasan penting lain yang mendorong Kyai Hasan mendirikan ponpes yaitu amanah dari orangtuanya, Kyai Sanrovi. Karena melihat kondisi masyarakat waktu itu masih jauh dari pengetahuan agama, Kyai Sanrovi berpesan agar Kyai Hasan mendirikan pesantren di daerah Sukamaju.

Selain itu, orang tua Kyai Sanrovi, K.H. Syafei, juga pernah berpesan agar syiar Islam di kawasan Desa Cileungsir dan sekitarnya yang sebelumnya telah dirintis oleh Kyai Syafei, dilanjutkan oleh anak cucunya.

Sistem Pengajaran

Sejak awal berdiri, Ponpes Sabilunnajat adalah pesantren berbasis salaf yang dalam pembelajarannya mengkaji berbagai kitab, seperti kitab Fiqh, Tasawuf, Tauhid, Tafsir, Sejarah, Nahwu dan Syorof , Mantiq, serta Maani.

Di ponpes ini, pengkajiannya lebih khusus kepada pengkajian tentang ilmu alat. Namun, tidak menutup kemungkinan banyak santri juga yang ahli dalam bidang Fiqh dan Tauhid.

Berikut sistem pengajaran yang diterapkan di Ponpes Sabilunnajat:

a) Sistem Sorogan

Sistem sorogan yang diterapkan di Ponpes Sabilunnajat adalah untuk santri yang mukim di pesantren atau “santri aktif”. Cara yang dilakukan adalah santri membaca kitab dengan cara diperhatikan oleh gurunya, mendengar, dan membenarkan ketika seorang santri ada kesalahan dalam membacanya.

Sistem sorogan ini dilaksanakan pada waktu tertentu yakni ba’da shalat dzuhur, ba’da shalat Ashar, dan ba’da shalat Dhuha. Kitab yang dibaca seperti kitab Fiqh, kitab Nahwu dan Sharaf, hafalan Al-Qur‟an, serta yang
lainnya.

b) Sistem Ceramah

Sistem ceramah yang dilaksanakan di Sabilunnajat biasanya dilakukan dua kali dalam satu minggu khusus untuk masyarakat sekitar. Hari minggu pagi digunakan untuk pengajian ibu-ibu dan hari Kamis malam digunakan untuk pengajian bapak-bapak.

Selai itu, juga dilaksanakan di bulan Ramadhan yaitu kuliah subuh dan kultum. Hal ini biasa disebut oleh masyarakat sekitar disebut dengan sistem babandung kuping.

c) Sistem Wetonan

Kegiatan pembelajaran di Ponpes Sabilunnajat menggunakan kitab-kitab klasik yang bernuansa salaf yang dipadukan dengan keadaan-keadaan saat ini. Dari pembelajaran yang diterangkan oleh seorang guru kemudian disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini. Hal ini yang memudahkan para santri lebih cepat memahami kandungan yang ada dalam kitab-kitab yang diajarkan.

Sistem wetonan yang diterapkan di Ponpes Sabilunajat dapat dibedakan menjadi beberapa bagian:

1) Sistem wetonan biasa diterapkan setelah shalat Subuh, Dhuha, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya. Dengan mengkaji kitab-kitab yang sudah ditentukan.

2) Pengajian mingguan yang diikuti oleh seluruh santri dengan mengkaji kitab-kitab yang sudah ditentukan oleh pesantren.

3) Pembelajaran di bulan Ramadhan. Untuk sistem dan waktu pembelajaran biasanya dilaksanakan sejak hari pertama bulan Ramadhan selama dua minggu sebelum Ramadhan berakhir.

Nama dari kegiatan bulan Ramadhan ini yaitu pesantren kilat yang biasa diikuti oleh seluruh santri yang masih sekolah guna mengisi liburan sekolah. Pesantren kilat juga diikuti oleh santri kalong atau santri yang tidak menetap di pesantren.

Program pembelajaran yang ditetapkan oleh Ponpes Sabilunnajat pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan ponpes pada umumnya. Kitab-kitab yang diajarkanyapun masih sama dengan pesantren pada umumnya.

Namun, dalam pembelajarannya sedikit penghususan bagi santri yang sambil sekolah dan yang takhasus. Santri yang sambil sekolah biasanya tidak mengikuti pembelajaran setelah shalat Duha dan shalat Dzuhur, mengingat waktu sedang mengikuti pembelajaran di sekolah.

Untuk takhasus harus mengikuti pembelajaran di pesantren pada waktu setelah shalat Duha dan setelah shalat Dzuhur.

Tenaga pengajar di Ponpes Sabilunnajat yaitu dari keluarga pesantren dan santri-santri yang sudah menikah kemudian difasilitasi rumah untuk tetap tinggal di pesantren. (dede suherlan/berbagai sumber)***