Rudy Hartono, Pencetak Rekor di All England yang Tak Terpecahkan hingga Kini

Rudy Hartono berhasil meraih delapan gelar All England, (Foto: CNNIndonesia.com)

Share

DIDIKPOS.COM – All England adalah turnamen bulu tangkis tertua dan orang Indonesia bernama Rudy Hartono pernah jadi penguasa di sana.

Pada tahun 60-an dan 70-an belum banyak turnamen bulu tangkis yang digelar. All England sering jadi kiblat badminton. Juara di All England berarti jadi pebulu tangkis terbaik di dunia.

Dengan tak banyak turnamen yang digelar di dekade tersebut, maka setiap pemain hanya punya sedikit kesempatan untuk unjuk gigi. Hal itu tentu membuat All England jadi turnamen impian tiap orang.

Mimpi-mimpi yang mengapung dari tiap pemain dari seluruh penjuru dunia ituhanya akan ada satu mimpi yang terwujud tiap tahunnya. Hebatnya, Rudy berhasil mewujudkan mimpi itu dari tahun ke tahun. Hingga tujuh kali beruntun dan delapan gelar secara keseluruhan.

Dalam kondisi sepi turnamen, persiapan menuju All England bakal berlangsung panjang. Layaknya persiapan perang, semua harus disiapkan matang-matang. Rudy mengaku ia sering menghabiskan waktu tiga bulan sebelum akhirnya berlaga di All England.

Berangkat ke All England pada zaman itu tak semudah berangkat ke All England pada masa kini. Kondisi keuangan membuat seleksi untuk pemain-pemain yang berangkat lebih ketat.

Pemain yang dipercaya berangkat ke All England adalah yang telah lebih dulu memenangkan persaingan antarteman.

“Saya berlatih selama lima bulan, tanpa pelatih, sehingga saya harus menyusun program sendiri. Saya begitu fokus dalam latihan setiap harinya karena saya ingin menjadi juara di Inggris,” tutur Rudy, dikutip CNNIndonesia.com.

“Saya gembira begitupun rakyat Indonesia apalagi saat itu kami mendapat dua gelar (Indonesia juga juara di nomor ganda putri lewat Minarni Soedaryanto/Retno Koestijah). Di nomor tunggal putra, setelah hampir satu dekade, akhirnya ada lagi juara All England dari Indonesia,” tambahnya.

Itulah kenangan Rudy ketika ia memenangkan gelar All England pertama pada 1968. Indonesia bisa bernapas lega karena merah putih punya bintang penerus jejak generasi pertama yang membawa harum nama Indonesia di akhir era 50-an.

Merebut gelar All England pertama dalam usia 18 tahun, tahun-tahun berikutnya kemudian jadi tahun kejayaan Rudy dan badminton Indonesia. Rudy meraih tujuh gelar beruntun di All England dan Tim Thomas Indonesia tak terkalahkan dalam empat penyelenggaraan dari mulai 1970 sampai 1979.

Dominasi tujuh tahun beruntun Rudy di All England adalah kombinasi kerja keras, persiapan matang, motivasi, dan keberuntungan.

Rudy terus melakukan persiapan rata-rata tiga bulan sebelum turnamen digelar. Rudy juga tak pernah kehilangan motivasi untuk kembali juara setelah menjadi yang terbaik di tahun sebelumnya.

Rudy tak lupa menyertakan keberuntungan di balik kehebatan yang ia ciptakan. Pebulu tangkis kelahiran Surabaya ini tak pernah mengalami cedera berat dalam persiapan dan pertandingan All England.

Rudy hanya pernah mengalami sakit gigi dan cedera ringan yang kemudian semuanya berhasil dilewati dalam perjalanan meraih kemenangan.

Delapan gelar All England adalah rekor milik Rudy di nomor tunggal putra All England yang belum pernah berhasil dicuri oleh pebulu tangkis tunggal putra di generasi berikutnya.

Rudy telah menetapkan definisi yang lebih tinggi untuk prestasi Indonesia di dunia badminton. Nama Rudy kemudian selalu jadi pembanding untuk pebulu tangkis hebat Indonesia di generasi berikutnya.

Rudy pula yang membuat demam badminton makin mengganas di Indonesia. (haf)***