Sensasi Maknyusnya Surabi Bunderan Cibiru

Surabi, cemilan khas Tatar Pasundan, (Foto: Istimewa).

Share

DIDIKPOS.COM – Bunderan Cibiru, Bandung, malam itu terlihat lengang. Suasana makin hening, karena hujan yang turun sejak sore hari, belum reda mengguyur gerbang masuk di kawasan timur Kota Bandung itu.

Di tengah rintik hujan, di sudut kiri Bunderan Cibiru, tepat di seberang tugu ‘Selamat Datang di Kota Bandung’, terlihat kerumunan orang berkumpul melingkar. Ada yang duduk berderet di kursi dan ada pula yang duduk lesehan. Mereka duduk berhadap-hadapan di seputar tungku yang menyala.

Lalu, apa yang menjadi daya tarik di lokasi itu? Ternyata, sambil ‘siduru’ menghangatkan badan di seputar tungku, ada penghangat lain, cemilan khas Tatar Pasundan, surabi.

Ya, surabi panas yang langsung diambil dari adonan di atas tungku, sajian Uhsin (64) dan sang istri Sutikah (59), pasangan pedagang surabi ini, menjadi sensasi tersendiri berada di Bunderan Cibiru.

Saat didikpos.com berbincang dengan Uhsin, pria perantau dari Bantarujeg, Majalengka itu mengungkapkan, dia berjualan surabi di Bunderan Cibiru sejak 1996. Tak heran jika Surabi Uhsin di Bunderan Cibiru, begitu terkenal bagi penikmat jajanan supernikmat itu.

“Yang membeli surabi ke sini bukan hanya datang dari seputar Bunderan Cibiru, tapi juga datang dari Panyileukan, Ujungberung, Cileunyi, Rancaekek, bahkan hingga Jatinangor dan Tanjungsari. Selain itu, pelanggan setia yang datang sesekali, juga banyak yang berasal dari luar kota. Mereka yang kebetulan baru pulang dari Kota Bandung menuju luar kota, seperti Sumedang, Garut, Ciamis, dan daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, selalu menyempatkan diri untuk singgah di warung lesehan ini,” kata Uhsin, beberapa waktu lalu.

Menurut Uhsin, saat tengah ramai-ramainya pelanggan datang ke lokasi itu, dia bisa menghabiskan 20 kilogram tepung beras, 20 kilogram telur ayam, dan 24 lempeng oncom dalam satu malam.

“Pendapatan kotor dalam semalam bisa mencapai tiga juta rupiah. Namun, itu jika tengah ramai. Bila kondisi agak sepi, ya untuk pendapatan kotor sampai dua juta rupiah bisa diraih,” kata pria yang selalu berkopeah itu.

Mengenai resep surabi yang diolah Uhsin, pria murah senyum ini menuturkan, resep surabi olahannya tak berbeda dengan surabi lain. Yang jelas, kata dia, adonan surabi harus pas. Jika tidak, surabi khas Uhsin yang jadi trademark cemilan ini tak akan hadir.

“Memilih oncomnya pun jangan serampangan. Kualitas tetap diutamakan. Harumnya aroma alami oncom hangat yang ditabur di permukaan surabi jangan sampai hilang,” imbuh Uhsin.

Salah satu pelanggan Surabi Uhsin, Hikmat Gumelar (56), mengatakan, setidaknya satu pekan sekali dia selalu menyempatkan diri datang ke Bunderan Cibiru.

“Melewati malam sambil melahap surabi di Bunderan Cibiru begitu nikmat. Selain surabinya memang enak, suasana malam di sini sangat mantap untuk dinikmati,” kata pria asal Jatinangor, Kabupaten Sumedang itu.

Pelanggan Surabi Uhsin lainnya, Syifa Octarina (24), warga Panyileukan, Kota Bandung, menuturkan, penganan tradisional selalu menarik untuk dinikmati.

“Aromanya itu loh Kang, khas sekali. Maknyus abis… Saya tak bosan untuk selalu datang ke Bunderan Cibiru,” ujarnya. (dede suherlan)***

Tinggalkan Balasan