Siswa RA Belum Mampu Manfaatkan Teknologi PJJ, Kemenag Beri Solusi

Ilustrasi, (Foto: Kemendikbud.go.id).

Share

DIDIKPOS.COM – Direktur Program Ishk Tolaram Foundation, Mimu Nanwani, menuturkan, siswa Raudatul Athfal (RA) belum terbiasa dengan model Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan belum mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar dari rumah.

“Bagi orang tua siswa, tidak semua bisa mendampingi anak belajar di rumah, terkadang mereka kesulitan dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat belajar di rumah dan terbatasnya akses ke sumber belajar,” terangnya, dalam “Serial Webinar Pelatihan dan Pengembangan Kapasitas Guru RA di masa Pandemic Covid-19”, Rabu (16/9/2020).

Bagi guru, lanjut Mimu, mereka kesulitan komunikasi dengan orang tua sebagai mitra di rumah dan cenderung focus pada penuntasan kurikulum. Selain itu belum adanya SOP yang jelas bagi guru untuk menjalankan PJJ bagi anak usia dini.

Dijelaskannya, pengertian dari PJJ menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RO No. 24/2012 adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan sumber belajar melalui teknologi infirmasi dan komunikasi dan media lainnya.

“PJJ bagi anak usia dini bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, pembelajaran daring (online). Dan yang kedua pembelajaran luring (offline) seperti kunjungan ke rumah dan pengumpulan tugas,” jelas Mimu.

Ia menambahkan, untuk menunjang proses PJJ, guru wajib memiliki empat keterampilan agar pembelajaran bisa menjadi efektif dan berhasil.
Pertama, mengembangkan kemampuan teknologi, informasi dan computer (TIK).
Kedua, meningkatkan komunikasi dengan orang tua siswa. Ketiga, memahami penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

“Selanjutnya keterampilan yang wajib dimiliki oleh tenaga pendidik yaitu play-based learning. Ini merupakan salah satu metode yang berhasil dan dapat digunakan dalam situasi PJJ saat ini,” kata Mimu.

“Guru diharapkan menggunakan metode loose parts dan project-based learning. Yaitu menggunakan bahan daur ulang dan membuat projek sesuai dengan bahan-bahan yang ada di lingkungan rumah,” pungkas Mimu.

Pada kesempatan sama Kasubdit Bina GTK RA Kemenag, Siti Sakdiyah, mengatakan, PJJ dalam masa pandemi ini membutuhkan kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa. Ini disebabkan siswa RA merupakan salah satu pihak yang paling terdampak akibat penerapan PJJ ini. Di sisi lain mereka belum bisa belajar mandiri.

“Untuk itu, learning continuity harus tetap berjalan. Bukan soal mutunya, namun tetap menjaga komunikasi belajar dan siswa tetap sehat. Belajar dan bermain dengan memberdayakan kondisi lingkungan yang ada, tanpa harus mencari bahan ajar yang mahal dan susah didapatkan,” ujarnya. (haf)***