Cerpen Annisa Moezha

(Ilustrasi: id.depositphotos.com)

Share

Bakiak Sang Kiai

KABAR dibukanya kembali masjid-masjid untuk beribadah sontak membuat penduduk kampung bersukacita. Setelah berbulan-bulan aktivitas ibadah di masjid dilarang sementara akibat wabah yang sedang menyergap penjuru negeri, akhirnya shalat Jumat pertama boleh dilaksanakan pada minggu ini asalkan tetap memenuhi protokol kesehatan.

Maksudi, sang penjaga Masjid Baiturrohman, adalah orang yang paling tidak sabar dengan kabar gembira ini. Begitu surat resmi dari Pak Lurah sampai di tangannya pada Jumat pagi, ia langsung bergegas mengumumkan pelaksanaan shalat Jumat pertama melalui pengeras suara masjid.

“Monggo kangge bapak-bapak ingkang ajeng dugi teng masjid, ngangge masker lan bekta sajadah piyambak-piam bak nggih.” Maksudi berulang-ulang menyampaikan kalimat ini di akhir pengumuman dibukanya masjid untuk beribadah. Suaranya menggema ke sudut-sudut perkampungan.

Bulan Ramadhan kemarin, warga sempat mengajukan protes kepada Pak Lurah terkait penutupan sementara masjid. Alasannya, tidak ada warga kampung yang mengidap virus yang mewabah tersebut, bahkan warga sudah antisipasi dengan memblokade jalan keluar-masuk kampung dan menolak kedatangan warga luar, apalagi dari luar kota. Tidak ada Tarawih dan shalat Id membuat para warga kampung bersedih, pasalnya Tarawih adalah sebuah tradisi yang menyatu dengan bulan Ramadhan.

Barangkali tahun ini menjadi tahun pembeda bagi Ramadhan tahun-tahun yang lalu. Setelah Pak Lurah didampingi petugas gugus daerah berembuk dengan para RW dan RT, akhirnya disepakati masjid ditutup sementara demi kemaslahatan bersama dalam upaya mencegah penyebaran virus tersebut.

Penutupan masjid membuat Maksudi yang paling bersedih di antara semua warga. Biasanya pagi-pagi sekali ia berangkat ke masjid, menjelang subuh ia sudah menyalakan shalawat tarhim di tape masjid, dan siap menyambut para jamaah datang. Hampir sehari penuh ia di sana, merangkap pula sebagai muazin. Namun, selama pandemi, saban hari tugasnya hanya membersihkan masjid, mengumandangkan azan, shalat seorang diri, lalu pulang dengan perasaan hampa.

Meski begitu, ia pernah dibuat kebingungan dengan satu kejadian yang masih belum bisa ia lupakan hingga kini. Suatu malam pada bulan Ramadhan, setelah menunaikan shalat Tarawih seorang diri di masjid, ia tak lantas pulang. Rasa lelah yang teramat membuatnya memutuskan untuk sebentar saja beristirahat di teras, bersandar pada salah satu tiang masjid yang kokoh dengan desiran angin malam yang membuatnya tak kuasa menahan kantuk.

Dalam masa-masa ngeliyep ternikmatnya itu, samar-samar ia mendengar percakapan yang baginya nyata dan begitu dekat di telinga.

“Kamu pancen hebat, saya lihat setiap hari kamu selalu datang dengan semringah. Meski ibadah berjamaah sedang ditiadakan, kamu tetap bersemangat.” Sebuah suara yang terdengar berumur memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Mungkin ini yang disebut berkah menurut Njenengan tempo hari. Saya selalu diliputi bahagia tiap tujuannya ke sini. Saya tidak pernah lelah meski harus bolak-balik setiap hari.” Suara yang lebih muda terdengar berapi-api. Penekanan kata njenengan sudah dipastikan bahwa dia bersikap ngurmati pada suara yang lebih berumur tadi.

“Terus terang saya iri. Jika saja saya bisa kembali bertugas seperti kamu, saya akan melakukan sekuat tenaga meski terseok-seok. Jujur, saya sangat rindu jalan-jalan kampung, majelis taklim, mushala-mushala, dan tempat-tempat yang dulu saya kunjungi.”

“Saya yang harusnya iri kepada Njenengan. Jam terbang dan pengalaman Njenengan masih lebih luar biasa dibanding saya. Saya selalu berdoa agar diberi umur dan manfaat yang panjang agar selalu bertugas dengan baik saban hari. Bukankah tugas kita adalah melindungi dan memantapkan niat seseorang untuk melangkah?”

“Betul. Selagi masih kuat, jangan cepat merasa lelah. Kamu tahu betapa berharganya tapak demi tapak, langkah demi langkah, dan jumlah jarak yang kita antarkan untuk kepergian seseorang ke sini? Yang jelas nikmat dan berkahnya tak pernah terukur. Saya sudah merasakannya sendiri.”

“Nggih, terima kasih Njenengan selalu repot-repot menemani saya setiap hari. Mudah-mudahan pandemi ini lekas berlalu. Rasanya sudah tak sabar bertemu kawan-kawan lama dan mudah-mudahan selalu ada kawan baru.”

“Sekarang, pulanglah, Maksudi sepertinya butuh tempat tidur lebih nyaman.”

Maksudi terperanjat begitu mendengar namanya disebut. Ia menyapu pandangannya ke sekitar masjid, namun tak didapati siapa pun. Padahal, baru saja ia mendengar percakapan dua suara yang tampak begitu dekat. Sadar ada yang ganjil, ia lekas menyomot sandalnya dengan terburu-buru dan bergegas meninggalkan masjid dengan telanjang kaki.

Berhari-hari sejak malam itu, ia masih mencari-cari dalam memori ingatannya, milik siapakah kedua suara itu, namun tak juga ia temukan.

***

Setelah melantangkan pengumuman dengan penuh semangat, Maksudi langsung bebersih masjid. Tak ada satu celah yang dibiarkan luput dari tangan Maksudi yang cekatan dalam membersihkan masjid. Apalagi, perkara kotoran yang menyentuh lantai atau singgah di kaca jendela.

Mendekati pukul 12.00, warga satu per satu berdatangan menenteng sajadah sendiri-sendiri. Dari harum wanginya mereka tampak begitu bersemangat datang dengan pakaian terbaik yang dikenakan. Namun, lain bagi Maksudi, perkara terbaik baginya adalah cara dirinya menyambut para jamaah shalat Jumat yang harus ia lakukan dengan sebaik mungkin.

Seusai shalat, orang-orang tidak berjabat tangan, melainkan saling menelungkupkan tangan sebagai tanda salam-salaman berjarak. Memang banyak sekali aturan untuk menjaga jarak fisik selama pandemi ini. Walau begitu, masyarakat tetap menaati demi kebaikan bersama.

Setelah semua orang pulang, Maksudi menjadi yang paling sibuk. Ia menyemprot setiap sudut masjid dengan cairan disinfektan dan kembali membersihkan seluruh sudut masjid. Ketika semua pekerjaanya beres, Maksudi bermaksud duduk sebentar di teras sambil menikmati sepoi angin, menyelonjorkan kaki, dan menyandarkan tubuhnya di tiang masjid. Tanpa sadar rasa kantuk tak tertahan menyelimuti. Samar-samar dalam tidurnya ia kembali mendengar percakapan dua suara yang sama seperti tempo hari.

“Bagaimana rasanya sudah bertemu dengan kawan-kawan yang lain. Akhirnya, tidak saya lagi saya lagi yang kamu temui.” Seperti biasa suara berumur itu memulai percakapan. Disusul dengan suara anak muda yang terkekeh.

“Alhamdulillah, berkat doa Njenengan, saya kembali reuni. Rasanya senang bisa berjumpa dengan yang lain. Walaupun saya minder karena nampak lebih lusuh sendiri sementara mereka tetap gagah-gagah.”

“Meski begitu, nilai kita semua tetap sama, kan? Baik engkau maupun mereka yang nampak gagah sedang sama-sama berjuang melewati wabah ini, mereka memilih tetap di rumah bersama tuannya, dan engkau pun terus menemani Maksudi sepanjang hari. Hakikatnya kita semua telah berjuang dengan cara masing-masing.” Suara berat itu lantas berdehem sebelum melanjutkan kalimatnya, “Lagi pula, bersyukurlah kamu lusuh, tapi masih kokoh, coba lihat aku?” Suara keduanya lantas terdengar saling tertawa.

Maksudi terperanjat.

Ia melihat sekitar dan lagi-lagi dua suara itu tak tahu dari mana sumbernya. Namun, kali ini dia tidak merasakan ganjil dan mencoba menahan rasa penasarannya. Ia pikir itu hanya bunga tidur atau memori mimpi yang kembali hadir.

Maksudi bangkit lalu berjalan pelan menuju rak sandal di sisi kiri masjid untuk mengambil sandal usang yang setia menemaninya pulang-pergi dari-ke masjid setiap hari. Begitu akan meraih sandalnya, ia memperhatikan sepasang sandal bakiak yang baru disadari olehnya. Bakiak itu bertengger di sana, tepat di sebelah sandalnya.

Ia mengingat-ingat sejak kapan bakiak itu berada di sana. Padahal, hampir matanya selalu awas dengan semua barang-barang di masjid. Dilihat sekilas, bakiak itu tampak berdebu seperti tak bertuan.

Entah mengapa hatinya terdorong untuk meraih sepasang bakiak itu. Samar-samar ia melihat ukiran sebuah huruf yang tertulis pada bagian depan bakiak. Maksudi lekas-lekas menyapu debu dan muncul inisial yang membuatnya tertegun; A.

Ingatannya tertumbuk pada sosok sepuh yang dulu selalu datang di masjid dengan sandal bakiak, Kiai Abdillah. Yang telah berpulang dua tahun lalu.

Maksudi bergegas pulang, perasaannya dipenuhi rasa kerinduan.***

(Republika, 04 Oktober 2020)

Annisa Moezha, perempuan kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Alumni pesantren di Cirebon, saat ini sedang menempuh studi di Pascasarjana Universitas Indonesia. Gemar menulis puisi dan cerpen. Beberapa jurnal dan karyanya pernah masuk dalam buku-buku antologi dan media cetak.

Sumber: Lakonhidup.com