Menjadi Ibu Idola

(Ilustrasi: Tagarmuslimah.com)

Share

Oleh Ipah Latipah, M.Pd.

Ibu
Aku bahagia bersamamu
Aku senang dekat denganmu
Aku ingin seperti dirimu
mencintaiku sepenuh hatimu
Sepanjang waktu
                       

(Nazhifa Kaisa: 2019)

MENEMANI sang buah hati adalah bagai sedang mengarungi lautan makna, pesona keceriaan, keriangan, kelucuan, kepolosan, kecerdikan, kreativitas mereka senantiasa memunculkan beragam hikmah berharga. Mereka menjadi guru terbaik dalam kehidupan. Di balik kelelahan yang juga dirasakan saat  berjuang mendidik mereka, maka di situlah kita tak pernah berhenti memohon pada Allah agar diberi kelapangan hati, kebersihan jiwa agar dapat melihat cinta di setiap gerak laku mereka. Putri-putri kita tak selalu tampil manis, tapi dengan cara sederhana mereka memberi kita bahagia. Putri-putri kita tak kan selalu menunjukkan diri mereka bisa, namun dengan kepolosannya, mereka dapat merasakan Allah senantiasa memberi dan menjaga.

Sungguh bahagia ketika kita mampu khusyu bersahabat dengan anak.  Mereka yang yang karena “kebocahannya” terkadang membuat kita memercayainya dengan perasaan was-was, meragukan kemampuan mereka bahkan kadang kita “tersenyum ragu” dengan segala “kepolosan kepintarannya” , kadang pula  membuat kita mengurut dada melihat tingkahnya.  Namun bersahabat dengan anak adalah bersahabat dengan ketulusan, kesabaran dan cinta.

Lelah? Itu pasti. Sebab mendidik mereka adalah bagian dari perjuangan. Namanya juga berjuang, tentu perjalanannya tidak selalu ringan dan mudah. Perjuangan yang tidak bisa dijalani sekadarnya saja. Tapi perjuangan dengan satu harapan  dari hari ke hari, mereka makin bijaksana mencintai kita, dari masa ke masa mereka makin dekat dengan Rabbnya. Namun, tak mengapa. Karena lelah itu seketika sirna saat mendengar celoteh lucu mereka, saat memandang senyum dan tawa mereka. Lelah itu berganti bahagia tak terkira saat mendengar bisikan lembut   “ Ibu…aku sayang sama ibu”, “ Ibu ….aku senang menjadi putrimu”, atau ungkapan-ungkapan lainnya yang menyiratkan bahwa mereka merasa bahagia berada bersama kita, bahwa kita begitu berarti untuknya. Rutinitas kesibukan rumah tangga yang tidak ada habis-habisnya, tidak akan berarti apa-apa sesaat ketika melihat anak-anak kita tersenyum bahagia. Kelelahan-kelelahan yang demikian dirasakan oleh seorang ibu  dalam merawat, membesarkan serta mendidik anak-anak, tergantikan dengan kebahagiaan ketika melihat mereka tumbuh sehat lahir dan batinnya.

Bertambah lagi kebahagiaan kita ketika mendapati mereka mengidolakan kita –ibunya. Jika kita adalah seorang ibu yang senantiasa berusaha menampilkan sosok ibu yang bijaksana, cerdas hati dan pikiran,  santun tutur kata, baik akhlak dan  pribadinya, ketika anak-anak kita menjadikan kita idola mereka, maka  profil seperti itulah  yang akan mereka contoh.  Ketika ibu sudah menjadi idola anak, maka ibu dapat lebih mudah melatihkan hal-hal yang positif pada anaknya, karena anak lebih terbuka menerima pengajaran, pendidikan, dan nasihat dari orang yang ia kagumi. Sebaliknya, jika yang menjadi idola anak itu hanyalah tokoh hayalan, maka gerak gerik si tokoh tersebutlah yang akan ditiru,  jika yang menjadi idola anak itu adalah seorang tokoh yang penampilannya tidak normatif, maka bukan tidak mungkin cara penampilan itu pula yang akan dicontoh.

Orang tua memainkan peranan utama dalam kehidupan anak. Orang tua memberikan konsep kehidupan, apa yang diperbuat mereka maka anak akan mengikuti

Lantas, pertanyaan yang cukup menggelitik kita – sebagai seorang ibu, cukup pantaskah kita menjadi idola buah hati kita ?siapa dan  Bagaimana kita di mata mereka?

Itulah barangkali dua pertanyaan di antara sekian banyak pertanyaan reflektif yang tujuannya bukan sekadar mengharapkan jawaban yang apik, logis, cerdas, melainkan lebih kepada upaya mengevaluasi sejauhmana peran kita sebagai sekolah bagi anak-anak berfungsi optimal. Sekolah yang tidak hanya berfungsi “mendidik” akal, tetapi juga mendidik hati sehingga terlahir anak-anak dengan karakter mulia, generasi cerdas berakhlak baik. Dan ibulah ujung tombak pendidikan generasi emas ini.

Ternyata tidak cukup mudah untuk menjawab dua pertanyaan di atas.Selain bahwa berbicara pendidikan anak adalah berbicara sesuatuyang dinamis dan kompleks, juga bahwa kita sadari sepenuhnya tugas  sebagai orang tua bukanlah tugas yang dapat dilakukan  dalam waktu yang singkat, lalu hasilnya dapat dilihat saat itu juga di depan mata, namun semua itu butuh waktu dan proses, karena yang kita hadapi adalah jiwa manusia yang sedang tumbuh dan menerima masukan dari berbagai arah (Meidya Derni,2009:10). Sehingga jika orang tua – terutama ibu- tidak cukup tangguh menjalani peran dan tugas besarnya sebagai pendidik, maka ia akan mendapatkan sosok pribadi yang rapuh dalam diri anaknya. Seperti tercermin dalam sikap cepat menyerah, mudah putus asa, kurang berani menghadapi tantangan dan mengambil risiko, kurang mampu mengelola emosi.

Keluarga adalah sekolah bagi anak-anak, sebesar apapun pengaruh institusi-institusi sosial  lain

(M. Hasan,a.b. Mujahidin,2006:194)

Lagi-lagi berbicara mendidik anak adalah bukan sekedar membahas siapa yang dididik, tetapi juga siapa yang mendidik. Itu artinya membicarakan tentang kita – orang tua terutama ibu. Yang kita hadapi sudah jelas adalah individu-individu yang unik yang memiliki beragam potensi positif yang siap dan mau dikembangkan. Satu hal yang perlu jadi bahan evaluasi adalah apakah kita menempati ruang terbaik di hati mereka, apakah kita mendapatkan posisi kuat sebagai orang yang mereka idolakan. Karena jika demikian, maka kita punya peluang lebih besar untuk memudahkan proses mendidik mereka.

Maka mari kita luangkan waktu sejenak dan bertanya, apakah kita termasuk sosok ibu yang seperti berikut?

-Ibu yang dicintai: seorang ibu yang memiliki sifat yang bijaksana yang membuat anak nya merasa senang berada di dekat nya dan mereka akan mudah menuruti nasihat baik nya karena merasakan perhatian dan kasih sayang yang tulus.

-Ibu yang dipercaya: seorang ibu yang mampu menciptakan kepercayaan dan pengaruh yang luar biasa dari anak nya. Sehingga ibu adalah menjadi teman dan sahabat bagi anaknya.

-Ibu yang memotivasi: seorang ibu yang mampu membimbing, mengarahkan dan memberikan motivasi/kekuatan kepada anak nya sekaligus menjadi contoh terbaik bagi anaknya.

Demikian sosok pribadi yang diharapkan ada pada diri seorang ibu. Menjadi ibu yang pantas untuk dicintai, dapat dipercaya, mampu memotivasi dan jadi idola sang buah hati. Selamat dan semangat berjuang, wahai kaum Ibu!

Generasi cerdas dan berakhlak baik, dilahirkan melalui sentuhan ibu  yang mendidik dengan hati mulia

***

Referensi

Meidya Derni. (2009). Happy Parenting. Jakarta : 2009.

Muhamad Hasan (a.b. Mujahidin Muhayyan). (2006). Perempuan Da’iyyah. Bandung : Mujahid Press.

Ipah Latipah & Nazhifa Kaisa. (2019). Tiga Bidadari. Bandung: Ellunar.

Penulis adalah Guru BK SMPN 1 Batujajar Kabupaten Bandung Barat.