Pandemi Covid-19, Begini Perjuangan Guru di Rancah Ciamis untuk Mengajar Siswa

Guru di SDN 1 Giriharja, Rancah, Ciamis, harus berjalan kaki menyusuri perbukitan mendatangi rumah siswa untuk menggelar home visit, (Foto: Istimewa).

Share

DIDIKPOS.COM – Bagi sebagian kawasan di Kabupaten Ciamis, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dalam jaringan (daring) yang diberlakukan selama pandemi Covid-19 tak berlangsung mulus.

Di SDN 1 Giriharja, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, misalnya, sistem belajar daring justru memunculkan persoalan. Tak semua siswa di sekolah ini memiliki ponsel untuk belajar secara online.

Menghadapi kondisi itu, guru harus putar otak agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung. Langkah terobosan yang dilakukan yaitu menggelar home visit.

Untuk mengaplikasikan sistem belajar itu, guru di SDN 1 Giriharja harus berjalan kaki menyusuri perbukitan mendatangi rumah siswa.

Empat guru sekolah ini hampir setiap hari harus berjalan cukup jauh mengajar delapan anak didiknya yang berada di daerah perbukitan di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa. Mereka adalah Yayah Hidayah (50), Eem Maesaroh (53), Iis Ratnengaih (51), dan Etin Rohaetin (52).

Salah satu guru, Etin Rohaetin menuturkan, tak semua siswanya bisa mengikuti belajar daring sejak sekolah libur selama pandemi Covid-19. Guna mengatasinya, Etin bersama tiga rekannya membagi tugas untuk home visit kepada delapan siswa tersebut.

“Memang lokasi rumahnya cukup jauh, ke perbukitan, ada sekitar 2-3 kilometer, tak bisa menggunakan kendaraan, harus jalan kaki. Jalannya dari tanah dan pasir, jadi licin. Meski cukup lelah, kami tempuh untuk pendidikan,” jelas Etin, kepada wartawan, dikutip detik.com, baru-baru ini.

Guru lainnya, Yayah, mengatakan, hampir setiap hari ia melakukan home visit kepada siswa yang tak bisa mengikuti belajar daring. Langkah yang ia tempuh dalam home visit ini mulai menyampaikan materi pelajaran hingga memberikan tugas.

“Saya ikhlas melakukan home visit dengan menempuh jalan yang cukup jauh. Para siswa ini juga harus berjuang datang ke sekolah untuk belajar dalam kondisi normal saat wabah Corona belum muncul,” ujarnya.

“Semoga kelak para siswa kami bisa pintar dan sukses kelak nanti. Harapannya, semoga wabah Corona ini segera berakhir dan belajar bisa dilaksanakan efektif lagi di sekolah,” sambungnya.

Salah satu orang tua siswa, Tatang (45), mengucapkan terima kasih kepada para guru yang jauh-jauh datang ke rumahnya untuk mengajar putrinya, Kania Anggraeni. Ia mengaku kondisi ekonominya pas-pasan, sehingga tak mampu membeli smartphone.

“Tak punya handphone (smartphone). Kalaupun ada, juga percuma, karena kondisinya di sini tidak ada jaringan sinyal. Jadi saya sangat berterima kasih atas perjuangan para guru. Anak saya jadi masih bisa belajar,” jelas Tatang.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ciamis, Tatang, mengatakan sistem belajar daring di Ciamis umumnya berjalan lancar. Namun ia mengakui masih ada kendala yang dihadapi, antara lain tak semua orang tua peserta didik memiliki ponsel Android. Meskipun ada, terkadang di daerah tertentu koneksi jaringan terganggu dan kuota internet tidak tersedia.

“Yang tak memiliki Android itu hanya sekitar 3,69 persen. Jadi untuk proses belajar-mengajarnya dilakukan dengan home visit, guru setiap pagi datang ke rumah siswa untuk memberikan tugas pelajaran,” kata Tatang. (des)***

Tinggalkan Balasan