Alergi Aplikasi Kekinian

Dra. Nani Sulyani, M.Ds., (Foto: Dok. Pribadi).

Share

Oleh Dra. Nani Sulyani, M.Ds.

KETIKA berkunjung ke laman facebook seorang rekan guru, saya dikejutkan dengan informasi bahwa ia sedang berproses menggunakan aplikasi TikTok sebagai media pembelajaran. Saya pun membuka link aplikasi yang dibagikannya. Betul, materi yang disampaikannya tentang teks naratif dalam Bahasa Inggris.

Mengapa harus TikTok? Lagi-lagi saya tak habis pikir. Sejauh ini, sebutan saya terhadap aplikasi tersebut adalah (maaf) alay. Tiktok adalah aplikasi video yang ditayangkan berdurasi 15 detik disertai musik, filter, dan beberapa fitur kreatif lainnya. Kalo ada video joget-joget heboh, video jail lulucuan, atau sulih suara tokoh berpengaruh yang diplesetkan, maka sumbernya tentu dari aplikasi tersebut. Kontennya melulu ditujukan untuk hiburan. Kesannya, jomplang dibandingkan dengan aplikasi pendidikan yang bergengsi lainnya, seperti Khan Academy, Ruang Guru, atau Brainly.

Rasa penasaran (karena belum ikhlas) ini akhirnya mendorong saya berselancar untuk mengetahui lebih jauh. Aplikasi TikTok yang diluncurkan di China ini dibuat oleh  Alex Zhu dan Luyu Yang. Merupakan gabungan dari dua aplikasi musikal sebelumnya yaitu Musical.ly dan Douyin. Sejak Agustus 2018, popularitasnya meningkat seperti Facebook dan YouTube. Saat ini, TikTok telah digunakan di 154 negara di seluruh dunia dengan 800 juta pengguna aktif setiap harinya. Di India, ada lebih dari 119 juta pengguna aktif dengan catatan pengunduhan sebanyak 277,6 juta kali. Sementera di China, pengguna tercatat sebanyak 400 juta orang.

Pada 3 Juli 2018, aplikasi ini sempat diblokir di Indonesia karena dinilai negatif untuk anak-anak berdasarkan pelaporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas. Namun satu hari setelahnya, perwakilan dari Tok Tok pun mendatangi Kominfo dan akhirnya sepakat untuk memenuhi syarat dan ketentuan dari Kominfo agar aplikasi ini bisa aktif lagi di Indonesia. Beberapa syaratnya adalah dengan membersihkan seluruh konten negatif di Tik Tok, menaikkan batas minimal usia pengguna Tik Tok jadi 16 tahun (dari yang semula 12 tahun), hingga membuka kantor perwakilan di Indonesia agar jika ada pengaduan, pemerintah bisa berkomunikasi dengan lebih cepat dengan pihak Tik Tok.

Setiap kali aplikasi sosial media diluncurkan, tentu mengundang pro dan kontra. Saya tidak meminta pembaca untuk memilih akan berada di kubu yang mana. Namun kenyataannya, negara dengan pemasangan aplikasi TikTok terbanyak selama periode ini adalah Amerika Serikat dengan 9,7 persen (6.324.000) dan Indonesia dengan 8,5 persen (5.542.000). Dengan total unduhan 8,5 persen pada Juli 2020, Indonesia memperkuat posisi sebagai negara pengguna TikTok terbesar keempat di dunia. Terdapat sekitar 30,7 juta pengguna TikTok di Indonesia. Wow, fantastis, bukan?

Mari kita sarikan dari beberapa sumber perihal positif dan negatifnya.

1. Sisi Positif.

a.  Tik Tok mengajak pengguna untuk sekreatif mungkin membuat konten video yang menarik dan lucu.

Ketika seorang pengguna menggunakan hashtag #Challenge di Tik Tok mereka, maka artinya dia menantang pengguna lain untuk melakukan video dengan tema yang sama. Nantinya, video ini akan viral karena banyak pengguna yang mengikutinya.

b.  Karena terdapat konten musik, video TikTok dapat digunakan untuk kegiatan icebreaking ataupun olahraga singkat.

c.  Dapat digunakan sebagai metoda kampanye.

Dilansir oleh kumparan.com (01/03/2020) WHO membuat akun TikTok dengan tujuan untuk menangkal informasi palsu atau hoaks tentang virus corona. Akun TikTok milik WHO (28/2/2020) berstatus verified dan memposting dua video. Video pertama menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh publik untuk melindungi dari virus. Penjelasan itu disampaikan Benedetta Allegranzi selaku Pemimpin Teknis Pencegahan dan Pengendalian Infeksi WHO. Video berdurasi satu menit itu bisa diakses di www.who.com.

d.  Self Branding dan Marketing. Banyak artis, maupun non artis, serta perusahaan yang kini mulai melirik TikTok sebagai pasar untuk menaikkan popularitasnya.

2. Sisi Negatif. Bukan hanya TikTok (Umumnya terjadi pada semua pengguna akun media sosial).

a.  Membuat aplikasi Tiktok cukup menyita waktu.

b. Bila tidak dapat mengatur waktu, menoton TikTok dapat mengurangi fokus belajar siswa.

c.  Bisa jadi karena sangat ingin membuat konten viral, berpeluang membahayakan diri sendiri, baik fisik maupun non fisik.

d.  Setiap sosial media memungkinkan penggunanya untuk terhubung dengan warga dunia, dan orang yang tak dikenalnya. Dampak ini perlu diwaspadai agar terhindar dari perilaku kriminalitas.

Memahamkan Literasi Digital kepada Siswa

Apakah sudah menentukan sikap? Bagi kita generasi Lolita (lolos lima puluh tahun), beriringan dengan siswa dari generasi Z bukanlah keniscayaan. Kita semakin bertambah usia, sementara, setiap tahun pelajaran baru, usia siswa kita semakin muda. Fakta, bukan?

Dalam e-book Seri Literasi Digital, Pedoman Berinternet Aman, Nyaman dan Bertanggungjawab, terdapat beberapa tips untuk mengawal anak-anak (siswa) berinternet.

1. Pelajari aplikasi yang akan digunakan. Sampaikan dampak positif dan negatifnya.

2. Buat pengaturan waktu/skedul kapan saatnya efektif dimanfaatkan, agar tidak terjebak menggunakannya secara berlebihan, lalu lupa waktu.

3. Pandulah agar melindungi data pribadinya. Hal ini untuk menjaga kemungkinan akunnya diretas dan dimanfaatkan untuk hal negatif.

4.  Jadilah sahabat. Ketika seseorang sudah memosisikan diri bersosial media, maka konten-konten negatif berpeluang untuk wara-wiri di layar.

Aplikasi sosial media akan selalu hadir bagai pisau bermata dua. Pemiliknya yang harus bijaksana menggunakannya. Jika kita memutuskan berdamai dengan teknologi, tentu harus meyakini bahwa hal itu memang lebih bermanfaat. Saya percaya seorang guru olah raga tidak akan menguji muridnya berenang, tanpa terlebih dahulu mengajarkan ilmu renang. Atau seorang jenderal tak mungkin memerintahkan pasukannya bertempur tanpa latihan perang terlebih dahulu. Coba saja tanyakan, mungkin ada aplikasi terpasang di ponsel para siswa kita, yang bahkan kita pun baru mendengarnya.

Baiklah, apakah ada yang sudah mencoba TikTok-an sebagai icebreaking di kelas?***

Sumber Bacaan:


WHO Bikin Akun TikTok untuk Cegah Hoaks Virus Corona – kumparan.com
Tik Tok Adalah (Pengertian), Asal, Manfaat, Efek Negatifnya | Jasa Sosial Media (pojoksosmed.com)
Meski Indonesia Salah Satu Pengguna TikTok Terbesar, ByteDance Pilih Singapura Sebagai Sasaran Investasi – Selular.ID
Seri Literasi Digital; Pedoman Berinternet Aman, Nyaman dan Bertanggungjawab; www.literasidigital.id

Penulis adalah Kepala SMPN 3 Saguling, Kabupaten Bandung Barat.