Mantan Guru dan Fosil Guru

Gambar ilustrasi guru, (Foto: Uns.ac.id).

Share

Oleh Rahmat Hidayat

GURU selalu menjadi pusat perhatian dalam berbagai aspek, selalu saja ada hal yang menarik untuk dikupas mengenai guru dan permasalahannnya. Ketika Jepang luluh lantak di-bom atom oleh sekutu,  yang pertama dicari dan wajib diselamatkan adalah guru. Kemudian Sang Kaisar berkata berapa orang guru yang selamat dari peperangan ini. Malaysia di awal kemerdekaannya banyak sekali menyekolahkan anak mudanya di sekolah guru di Indonesia. IKIP Bandung  yang sekarang berubah nama menjadi UPI adalah salah satu tempat sekolah anak muda asal negara Upin dan Ipin itu. Ternyata ada hasil yang signifikan ketika negara-negara yang memberi perhatian lebih kepada guru menjadi negara yang mengalami percepatan yang luar biasa. Kita lihat Jepang menjadi raksasa ekonomi di dunia tidak lama setelah mereka hancur.  Malaysia menjadi negara  yang berjaya di kawasan Asia Tenggara di saat usia kemerdekaan mereka yang baru setengahnya dari usia kemerdekaan negara kita.

Guru di Indonesia masih terlihat dipandang sebelah mata, padahal kita sudah tahu dan faham bahwa guru adalah agent of change, agen perubahan. Guru diharapkan selalu menjadi sosok agen pembaharu. Guru menjadi ujung tombak masa depan bangsa, ujung tombak persatuan bangsa, dan ujung tombak Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Jadi kalau saja nanti terjadi kemajuan ataupun kemunduran bangsa, guru menjadi penyumbang terbesarnya.

Perhatian pemerintah selama ini terhadap guru sudah jauh lebih baik. Mulai dari  pemberian peningkatan gaji untuk para guru, pemberian beasiswa melanjutkan studi, pelaksanaan pendidikan dan latihan untuk guru ataupun dalam bentuk pemberian penghargaan berupa tunjangan sertifikasi.  Upaya pemerintah untuk mensejahterakan guru sudah terlihat dengan nyata. Hal ini tentu wajib dibalas oleh guru dengan menunjukan kinerja yang lebih baik lagi sebab tantangan guru di abad milenium ini begitu luar biasa. Guru diharapkan mampu menjawab semua tantangan itu sehingga harapan Indonesia menjadi lebih baik dan hebat dapat terwujud.

Mewujudkan Indonesia yang hebat tentunya tidak terlepas dari hadirnya guru-guru hebat. Guru-guru pembelajar yang haus akan ilmu pengetahuan dan teknologi  sehingga hal ini akan menjadi sebuah virus positif bagi kemajuan anak bangsa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berubah sangat  cepat perlu diimbangi oleh para guru yang juga punya kemampuan berubah seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru saat ini haruslah menjadi sosok guru yang mau terus belajar, salah satunya dengan banyak membaca buku-buku  yang terkait dengan mata pelajaran yang diampunya atau buku buku lain yang dapat meningkatkan profesionalitas dan kompetensi diri.

Ada pembicaraan yang menarik tentang kebiasaan membaca ini bagi guru, yaitu apa yang disampaikan oleh Kepala KCD Pendidikan Provinsi Jabar Wilayah XII, Abur Mustikawanto, dalam sebuah kegiatan pelatihan menulis bagi guru. Menurutnya, guru yang selama tiga bulan tidak pernah membaca buku satupun maka sebetulnya sudah tidak layak lagi mengajar di depan kelas  dan disebut sebagai mantan guru.  Sedangkan apabila guru tidak pernah membaca buku apapun dalam satu tahun maka ia kemudian lebih layak disebut sebagai fosil guru. Artinya apabila ia mau menjadi guru kembali wajib untuk memulai semuanya dari awal yaitu seperti dulu ia memulai kuliah untuk menjadi guru kembali.

Untuk itu marilah kita sama-sama tingkatkan kemampuan kita untuk menjadi guru yang lebih baik lagi. Bukankah hadist nabi mengatakan, orang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin dan orang yang merugi adalah orang-orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Dan janganlah kita kemudian  disebut sebagai  mantan guru atau bahkan mungkin disebut sebagai fosil guru.***

Penulis adalah guru di SMAN 1 Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat

Sumber: Majalah Guneman

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.