PGRI di Era Virtual

Ketua Pengurus Besar PGRI, Dudung Nurullah Koswara, (Foto: Dok. Pribadi).

Share

Oleh Dudung Nurullah Koswara

ERA virtual adalah era baru di abad 21. Kemajuan IPTEKS memaksa setiap orang untuk beradaptasi. Termasuk para pejuang organisasi profesi guru. Sebagai pengurus organisasi profesi guru bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diawali jadi anggota ranting PGRI, Ketua Ranting PGRI, Ketua Cabang PGRI, Ketua PGRI Kota, dan kini Ketua Pengurus Besar PGRI.

Liku dan kelok perjuangan nasib guru terasa dekat karena memang setiap hari di satuan pendidikan bersama para guru. PGRI dipersepsi sebagian orang sebagai organisasi yang identik dengan guru SD. Mengapa? Karena guru SD adalah entitas paling banyak dan paling kompak. Mereka solid dan partisipatif pada PGRI. Entitas guru SD-lah yang paling taat bayar iuran.

Dalam tubuh PGRI ada kendala jenjang. Apa itu kendala jenjang? Kendala menyatukan guru SD, SMP, SMA, SMK dalam organisasi. Apalagi pasca-UU RI No. 23 Tahun 2014. Alih kelola dipersepsi sejumlah guru yang kurang memahami AD ART PGRI seolah guru SMA/SMK terpisah dari guru SD/SMP. Ini keliru. Dalam organisasi PGRI tidak ada “alih kelola” secara keanggotaaan. Basisnya wilayah bukan jenjang.

Di era virtual para pengurus organisasi sejenis PGRI harus menguatkan budaya pemanfaatan media virtual. Apalagi era pandemi Covdi-19. Dunia virtual menembus batas, ruang, dan waktu bebas kendala geografis dan struktur. Dunia virtual harus dimanfaatkan secara efektif sebagai media perjuangan syiar, advokasi dan narasi suara kebatinan entitas guru.

Di antara perjuangan dan syiar yang bisa dilakukan adalah dengan menyuarakan aspirasi guru melalui budaya literasi. Tulisan aspiratif yang objektif bisa dituangkan di medsos atau media cetak lainnya. Di tahun 2014 Saya menulis di media cetak grup Jawa Pos dengan judul “Jokowi Layak Dicurigai” menyebabkan Saya diundang ke Istana Merdeka.

Tanpa tulisan rasanya sulit untuk mencuri perhatian seorang Presiden. Maka era virtual adalah kesempatan bagi para pejuang organisasi untuk membentuk opini publik, bermitra dengan penguasa, atau kritik manis pada pihak tertentu agar aspirasi kita dipertimbangkan. Dengan adanya era virtual sebenarnya sistem organisasi, demokrasi dan struktur organisasi menjadi kalah cepat merespons tuntutan setiap saat, detik, menit, jam, dan hari.

Dunia virtual dengan mudah bisa memviralkan sebuah visi misi perjuangan bila tepat moment, kemasan, narasi, dan informasi yang dibutuhkan publik. Sejak tahun 2011 Saya mulai “mengguyur” dunia media cetak dan virtual. Ini sangat baik untuk sebuah upaya perjuangan semisal nasib dan harkat martabat guru. Dunia maya virtual “menunggu” 24 jam non stop, aspirasi, dan narasi melalui berbagai tulisan atau video.

Sebagai contoh, pada Sabtu (20/3/2021) kemarin, Saya dinformasikan oleh salah satu media nasional yang mengatakan,” Kemarin berita Pak Dudung, soal modus 1 juta guru PPPK, pembacanya hampir 250 ribu”. Sungguh sebuah media maya dapat dijadikan kanalisasi perjuangan. Menulis, video, pernyataan, dan berita bisa cukup efektif menyentuh publik. Publik dimensinya adalah pemerintah, masyarakat, anggota organisasi, dan pihak lainnya.

Selanjutnya Saya pun dikabari seorang pengurus forum guru se Indonesia, tulisan Saya yang berjudul “Guru Bukan Begal” tembus pembaca di forum guru sebanyak 44.907 guru. Dunia virtual adalah media literatif yang cukup efektif menyentuh perspektif publik. Terutama publik anggota organisasi yang kita ikuti. Selanjutnya Saya pun dikabari sahabat media beritadisdik.com Jawa Barat, tulisan berjudul “Guru dan Dosen Makan Gaji Buta” dibaca 3.864 orang.

Sahabat guru, pejuang organisasi mari kita manfaatkan media virtual. Terutama para pengurus PGRI mulai dari jenjang ranting sampai PB PGRI teruslah menulis, menyurakan kebatinan aspirasi anggota. Pepatah bijak mengatakan, “Katakan dan tuliskan pemikiran kita walau sedikit sebagai bentuk perjuangan.” Publikasi, syiar, dan pencitraan organisasi adalah di antara bentuk akuntabilitas organisasi dihadapan anggota dan publik.

Khusus PGRI harus terus bertransformasi di tengah banyaknya pilihan organisasi profesi berwajah guru. Guru-guru muda milenial yang tak tahu sejarah perjuangan dan jasa PGRI punya selera sendiri. Mereka adalah kekuatan masa depan organisasi. Wajah PGRI harus merepresentasikan wajah mereka dan gaya mereka pula. Tinggalkan pola lama lakukan adaptasi dan kebaruan. Sebesar apa pun organisasi profesi guru bisa tertidur, sayup-sayup, dan lenyap bila tidak merangkul anggota baru, entitas guru milenial.***

Penulis adalah Ketua Pengurus Besar PGRI.

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.