Strategi Pembelajaran dalam IPS

Catur Nurrochman Oktavian, M.Pd., (Foto: Dok. Pribadi).

Share

Oleh Catur Nurrochman Oktavian, M.Pd.

DALAM suatu proses pembelajaran, guru harus memiliki cara atau strategi yang menarik agar peserta didik menyukai dan senang dengan mata pelajaran yang diberikan oleh guru. Peserta didik yang senang dengan mata pelajarannya secara tidak langsung akan terdorong dan tertarik untuk belajar dengan rajin. Dengan demikian, kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah dapat meningkat. Penggunaan strategi yang tepat akan membangkitkan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran sehingga peserta didik mampu untuk menyerap dengan baik mata pelajaran yang diberikan yang jauh dari kata membosankan, melainkan akan membuat kesan menyenangkan dalam belajar IPS. Selama ini banyak strategi dalam sebuah proses pembelajaran yang hanya sedikit melibatkan peserta didik secara langsung maupun interaksi sesama peserta didik.

Istilah strategi pembelajaran sering dicampuradukkan dengan model pembelajaran. Padahal keduanya memiliki konsep pemahaman dan karakteristik yang berbeda. Istilah model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas dari strategi pembelajaran. Model pembelajaran merujuk pada paradigma tertentu yang menjadi kerangka berpikir dan bertindak dalam pembelajarannya. Misalnya Model pembelajaran perilaku dibangun atas dasar teori yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Salah satu cirinya adalah kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan serta dapat terukur. Belajar dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyeluruh, tetapi diuraikan dalam langkah-langkah yang konkret dan dapat diamati. Mengajar berarti mengusahakan terjadinya perbuatan dalam perilaku siswa, dan perubahan tersebut haruslah teramati. Menurut Supardan (2014) termasuk dalam model perilaku ini adalah: Pembelajaran Tuntas (Mastery learning), Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction Model).

Sedangkan Strategi pembelajaran merupakan implementasi dari sebuah model pembelajaran. Dalam pembelajaran guru seharusnya memilih strategi pembelajaran yang mengacu pada empat ciri tersebut agar dicapai keberhasilan siswa dalam belajar. Terdapat beragam definisi tentang strategi pembelajaran yang dikemukakan para ahli seperti Gulo dengan mengacu pandangan J.R. David (Wasino & Edy Sutrisna, 2009) mendefinisikan strategi pembelajaran sebagai rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Kemudian menurut Kokom Komalasari Strategi pembelajaran sebagai pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Hal ini mengandung arti bahwa interaksi belajar mengajar berlangsung dalam suatu pola yang digunakan bersama oleh guru dan siswa. Suwarma Al Muhtar (2014:228) mengemukakan strategi pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran yang direncanakan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dilihat dari aktivitas peserta didik, peran guru, materi, sumber pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Pendapat lain dikemukakan oleh Supardan (2014:178) yaitu strategi pembelajaran adalah keseluruhan usaha guru termasuk perencanaan, cara, dan taktik yang digunakan untuk mencapi tujuan belajar yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan beragam pandangan tentang strategi pembelajaran dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu keseluruhan proses usaha guru dalam pembelajaran yang meliputi perencanaan, cara, taktik, dan metode yang dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan menurut Edwin Fenton dalam Supardan (2014) sebaiknya terlebih dahulu dipahami kemampuan kondisi awal siswa. Jika Siswa sebelumnya sudah banyak memahami dan relatif menguasai materi pembelajaran, maka pendekatan yang lebih relevan digunakan adalah discovery. Guru dalam hal ini berperan non-direktif yang berarti hanya menyajikan stimulus tertentu (kata-kata, gambar, bagan). Peran guru dalam hal ini terbatas hanya memfasilitasi pembelajaran siswa dengan menggunakan metode inkuiri, tanya jawab, problem solving, dan sebagainya.

Sebaliknya jika siswa belum banyak memahami materi pembelajaran karena materi yang direncanakan guru relatif baru, maka pendekatan dan strategi yang lebih relevan digunakan adalah eksposisi. Melalui eksposisi, maka guru mengemukakan fakta-fakta, konsep-konsep, maupun generalisasi yang bersifat direktif seperti ceramah presentasi, maupun pemutaran film.      

Mengingat strategi pembelajaran memiliki karakteristik masing-masing, maka dalam menentukan strategi menurut Costa dalam Supardan (2014) terdapat lima ketentuan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, adanya perbedaan pola berpikir siswa menimbulkan perbedaan strategi pembelajaran. Kedua, adanya perbedaan gaya belajar siswa menimbulkan perbedaan pula dalam strategi pembelajaran. Ketiga, adanya perbedaan tujuan menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran. Keempat, adanya perbedaan motif menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran. Kelima, adanya perbedaan masalah/problem menimbulkan pula perbedaan strategi pembelajaran.

Dalam hand out perkuliahan Strategi Pembelajaran IPS, Kokom Komalasari mengemukakan prinsip-prinsip pemilihan strategi pembelajaran IPS sebagai berikut:

  • bermakna (meaningful)
  • integratif (integrative)
  • berbasis nilai (value based)
  • menantang (challenging)
  • aktif (Active)

ditambah dengan prinsip-prinsip:

1.  Pengembangan berbagai potensi dasar siswa

      a.  dorongan ingin tahu (sense of curiosity)

      b.  minat-perhatian (sense of ineterst)

      c.  dorongan membuktikan kenyataan (sense of reality)

      d. dorongan menemukan sendiri (sense of discovery)

      e. dorongan bertualang (sense of adventure)       f dorongan menghadapi tantangan (sense of challenge)

2.  Keberagaman latar belakang lingkungan sosial  siswa

3.  Social entry behavior siswa

4.  Kesinambungan dan tahapan perkembangan sosial siswa

Selanjutnya akan diuraikan secara singkat tentang empat kategori strategi pembelajaran yang dikemukakan dalam Supardan (2014:181-190) sebagai berikut:

1. Strategi Direktif (directive)

Menurut strategi ini, siswa secara langsung memperoleh informasi melalui model, presentasi yang disajikan oleh guru. Strategi ini bisa dilakukan melalui pembelajaran melalui film, tape recorder, ceramah, dan sebagainya. Strategi pembelajaran direktif banyak digunakan untuk pembelajaran klasikal. Melalui strategi ini siswa dan guru akan memperoleh informasi bersama-sama.

Menurut Beyer dalam Supardan (2014), strategi direktif ini melalui lima tahapan yaitu sebagai berikut : tahap pertama introduce yaitu memperkenalkan topik kajian yang akan dilakukan dalam pembelajaran baik lisan maupun tertulis. Tahap kedua, explain, pada tahap ini dijelaskan beberapa kunci prosedur dan petunjuk praktis pencapaian serta penguasaan materi pokok. Tahap ketiga, using example. Pada tahap ini guru memberikan contoh-contoh akurat sesuai topik kajian. Tahap keempat, apply the skill as modeled by teacher. Pada fase ini siswa diuji daya serap hasil belajarnya atau kemampuan hasil belajarnya selama proses pembelajaran dengan contoh yang diberikan guru. Tahap kelima, reflection. Pada tahap ini siswa merefleksikan keberhasilan tujuan pembelajaran secara menyeluruh. Indikator keberhasilan dilihat dari keterampilan siswa dalam mengemukakan pendapatnya baik lisan maupun tulisan.

2. Strategi Mediatif (Mediative)

Strategi mediatif mentranformasikan pengetahuan, keterampilan, dan konsep-konsep menjadi makna baru, dan praktek dan memahami proses rasional dari pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan berpikir kritis. Yang tergolong dalam strategi ini adalah Open-Ended Discussion, Concept Development or Concept Attainment and Concept Formation, Social’s Inquiry, Moral Reasoning, dan sebagainya.

Langkah-langkah singkat strategi inkuiri sosial seperti disebutkan oleh Supardan (2014:182) sebagai berikut :

  • Langkah pertama “orientasi”

Pada langkah ini ditetapkan masalah sosial sebagai pokok bahasan yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan yang tidak terlalu luas cakupannya.

  • Langkah kedua “perumusan hipotesis”

Pada fase ini mencari dan merumuskan beberapa hipotesis yang disajikan sebagai acuan dalam inkuiri sebagai bahan pengujian.

  • Langkah ketiga “definisi”

Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah menjelaskan konsep-konsep yang terkandung dalam hipotesis tersebut.

  • Langkah keempat “eksplorasi”

Kegiatan yang dilakukan pada fase ini adalah menguji hipotesis yang diajukan dengan logika deduksi, yaitu menghubungkan hipotesis dengan implikasi dan asumsi-asumsinya.

  • Langkah kelima “menguji hipotesis”

Pada fase ini dilakukan pengujian hipotesis melalui pengumpulan pendapat hasil penelitian yang dilakukan siswa

  • Langkah keenam “generalisasi”

Pada bagian ini pemecahan masalah serta perbaikan sosial sebagai tindak lanjut hasil penelitian.

3. Strategi Generatif

Strategi ini mendorong siswa belajar kreatif, karena dengan mengajukan gagasan-gagasan yang orisinal, fleksibel, lancar, dan elaboratif diharapkan siswa dapat menghasilkan kombinasi-kombinasi baru yang lebih berguna, logis, dan elegan.

Yang termasuk dalam strategi ini adalah : Strategi Brainstorming, Strategi Synectics, Strategi Problem Solving.

Strategi pemecahan masalah secara kreatif (Creative Problem Solving) yang dikembangkan Parnes, meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menemukan fakta
  2. Menemukan masalah
  3. Menemukan gagasan
  4. Menemukan solusi
  5. Menemukan penerimaan

Sedangkan dalam strategi Sinektik terdapat dua stategi yang mendasari prosedur tersebut yaitu : pertama, menceritakan sesuatu yang baru. Strategi ini dirancang untuk mengenal keanehan-keanehan yang akan membantu siswa dalam memahami masalah, ide, produk yang mendorong siswa kreatif. Kedua, memperkenalkan keanehan yang dirancang untuk membuat sesuatu yang baru, ide-ide yang tidak dikenal akan lebih berarti, namun dalam pelaksanaannya dengan analogi yang dikenal siswa.

4. Strategi Kolaboratif

Strategi ini menekankan pada strategi bagaimana siswa belajar bersama. Dengan berkelompok dan belajar bersama siswa berpikir dan memecahkan masalah bersama-sama. Yang tergolong dalam strategi kolaboratif adalah : Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Pembelajaran kooperatif telah lama dikembangkan oleh para ahli sebagai alternatif untuk meningkatkan mutu pembelajaran, terutama untuk mentransformasikan model pembelajaran yang berpusat kepada guru kepada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Strategi ini menekankan efektifitas pembelajaran pada keterlibatan peserta didik pada proses belajar bersama.

Pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu berbuat diri mereka belajar sama baiknya. Siswa dalam satu tim akan saling mendukung untuk berhasil, bukannya untuk gagal yang menurut Slavin (2005:8) itulah inti dalam pembelajaran kooperatif.

Lebih lanjut dikemukakan oleh Slavin (2005) dalam metode pembelajaran kooperatif, para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang untuk menguasai materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Jadi dalam pembelajaran kooperatif ini adalah belajar dalam satu kelompok, dalam satu tim untuk menguasai satu materi pembelajaran.

Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. (Slavin, 2005:33). Menurut tujuan di atas maka kita dapat mengetahui bahwa melalui pembelajaran ini, potensi siswa tidak hanya dapat berkembang dari aspek pengetahuan saja, melainkan aspek afektif maupun keterampilan akan juga turut berkembang. Pendapat lain dikemukakan oleh O’Leary dan Dishon dalam Supardan (2014), pembelajaran kooperatif menyediakan struktur cara siswa belajar kelompok. Tujuan strategi kooperatif adalah untuk membantu siswa berhasil menyelesaikan tugas (baik akademis dan non akademis) dan menggunakan keterampilan sosial yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan. Pendapat lain tentang Pembelajaran kooperatif yaitu Cooperative Learning merupakan suatu pendekatan atau sekumpulan strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan untuk bekerjasama selama proses pembelajaran (Suwarma Al Muhtar, 2014:249). Pelaksanaan pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi, kerjasama, saling membantu antaranggota dalam kelompok pembelajaran. Menurut Stahl dalam Suwarma Al Muhtar bahwa cooperative learning dapat meningkatkan cara belajar peserta didik menuju belajar lebih baik, sikap tolong menolong, dalam perilaku sosial.

Berdasarkan beragam pendapat tersebut di atas, maka dengan demikian strategi ini sangat relevan dalam pembelajaran IPS karena dalam bidang studi IPS memiliki tujuan mempersiapkan anak didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, rasional, partisipatif dalam pengambilan keputusan masyarakat dan bangsa di lingkungan lokal, maupun dalam pergaulan dan percaturan global.

Walaupun pembelajaran kooperatif menekankan pada kerja dalam bentuk kelompok namun tidak setiap kerja kelompok bisa dikatakan sebagai belajar dengan cooperative learning. Lie dalam Suwarma Al Muhtar (2014) menekankan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat sistem kerja kelompok yang terstruktur. Prinsip utama dalam pembelajaran kooperatif adalah apabila terjadi proses saling membantu antar peserta didik, sehingga dapat belajar bersama dan mencapai tujuan bersama.

Mengenai prinsip pembelajaran kooperatif O’Leary dan Dishon mengemukakan bahwa strategi kooperatif memiliki prinsip-prinsip yang didasarkan pada:

  1. Prinsip Kepemimpinan yang didistribusikan
  2. Prinsip Pengelompokan heterogen
  3. Prinsip Saling ketergantungan positif
  4. Prinsip Akuisisi keterampilan
  5. Prinsip Otonomi kelompok

Dalam strategi pembelajaran kooperatif terdapat beragam teknik yaitu:

Student Team Achievement Division (STAD), Make A Match, Team Games Tournament (TGT), Jigsaw, Number Head Together (NHT). Masing masing teknik tersebut memiliki karakteristik proses pembelajaran tersendiri.

Strategi Pembelajaran IPS yang mendorong Kreativitas

Strategi pembelajaran yang menunjang kreativitas guru di antaranya adalah:

  1. Strategi Sinektik (Synectics)

Strategi ini berasal dari W.J.J Gordon (Supardan, 2014) yang merupakan strategi (teknik) berfikir kreatif menggunakan analogi dan metafora (kiasan) untuk membantu pemikir menganalisis masalah dan mengembangkannya dari berbagai sudut. Terdapat tiga jenis analogi yang digunakan dalam sinektik yaitu : (1) analogi fantasi, (2) analogi langsung, (3). analogi pribadi. Yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran adalah analogi fantasi. Dalam analogi fantasi, siswa mencari pemecahan masalah yang ideal untuk mencari solusi bahkan yang aneh-aneh, tidak lazim tapi menarik.

2. Strategi Pembelajaran Sosiodrama

Menurut Rice dalam Supardan (2014 : 188) Sosiodrama pada hakekatnya merupakan usaha pembelajaran untuk memainkan kembali suatu insiden historis ataupun peristiwa-peristiwa sejarah.  Sosiodrama juga dapat menggambarkan secara artistik seluruh proses kehidupan manusia, merefleksikan hidup dalam pertentangan tokoh, gerakan sosial, atau moral yang timbul. Dalam sosiodrama didasarkan pada karya kreatif untuk menampilkan kehidupan dari gambaran yang tak lengkap menjadi bentuk yang hidup dan bergairah dalam realitas yang obyektif. Menurut Supardan (2014 : 189), Dalam Sosiodrama tedapat komponen-komponen kegiatan : (1) menentukan tujuan pembelajaran, (2) menentukan topik, (3) menentukan/memilih peran, (4) pemeranan adegan, (5) diskusi / evaluasi pemeranan. Sosiodrama dapat dikatakan sebagai alat pendidikan dalam menghayati karakter tokoh/pameran yang dimainkan tentunya tidak lepas dari upaya karakterisasi nilai-nilai kejuangan yang diperankan siswa, yang pada gilirannya diharapkan adanya transfer of learning pada pribadi siswa.

3. Strategi Studi Ekskursi Perjalanan

Studi Wisata adalah suatu prosedur pembelajaran yang memberikan pengamatan langsung tentang fenomena dan kumpulan data di tempat sebenarnya. (Supardan, 2014:189). Studi wisata merupakan strategi pembelajaran dengan datang dan mengamati langsung obyek pembelajaran. Hal ini berbeda dengan studi pustaka atau studi ke perpustakaan. Tujuan dari studi wisata adalah mempelajari sesuatu objek baik objek sejarah, geografi secara kongkrit, menggunakan pengalaman sensori dan melatih murid dalam menerapkan metodologi riset. Melalui studi wisata ini, siswa tidak hanya belajar hafalan semata melainkan melakukan riset bersama langsung ke tempat yang dituju.

4. Strategi Inkuiri Sosial

Strategi inkuiri sosial pada hakekatnya sebagai suatu strategi pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan penyelidikan dan merefleksikan sifat kehidupan sosial terutama sebagai latihan hidup langsung di masyarakat. Pendekatan strategi ini bertolak dari suatu keyakinan bahwa dalam rangka pengembangan kemampuan siswa secara independen, penyelidikan masalah-masalah sosial sangat diperlukan sebagai partisipasi aktif warganegara / warga masyarakat. Siswa dan sekolah sebagai bagian dari masyarakat juga harus berkontribusi dalam pemikiran dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan nyata di masayarakat. Sekolah tidak hanya berkewajiban untuk memelihara nilai-nilai di masyarakat, tetapi juga harus memberikan keaktifan kepada siswa yang secara kritis dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang muncul.

Terdapat beberapa keungggulan dan kelemahan dalam strategi inkuiri sosial yaitu sebagai berikut : Keunggulannya adalah melalui penelitian/penyelidikan yang langsung akan melatih siswa untuk melakukan penelitian secara ilmiah. Selain itu siswa akan lebih semangat dan gairah dan termotivasi karena benar-benar sebagai subyek pendidikan yang memungkinkan merasa bangga dan memiliki sense of belonging terhadap hasil-hasil penelitiannya. Kelemahannya strategi ini membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan strategi direktif lainnya seperti eksposisi.***

Daftar Pustaka

Al Muhtar, Suwarma. (2014). Inovasi dan Transformasi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung : Gelar Pustaka Mandiri.

Joyce, B., Weil, M.,& Calhoun. (2011). Models Of Teaching. Boston : Pearson Education, Inc.

Kokom Komalasari. Handout perkuliahan : Strategi Pembelajaran IPS. Bandung : UPI diunduh dari www.file.upi.edu diunduh pada 14 Oktober 2014, jam 17.57 WIB.

Slavin, E.Robert. (2005). Cooperative Learning : Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan. Bandung Nusa Media.

Supardan, D. (2014). Pendidikan IPS : Perspektif filosofi, Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Prodi IPS Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.

Panitia Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 135. (2012). Modul PLPG IPS. Bogor : Universitas Pakuan.

Wasino dan Edy Sutrisna. (2009) Model Dan Strategi Pembelajaran Ips Yang Dilaksanakan Di Sekolah Menengah Pertama : (Kajian terhadap Sekolah-sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah) terdapat dalam http://etalase.unnes.ac.id/files/66cb960420eb1b91ec2a8253e23de38e.pdf diunduh pada 14 Oktober 2014 jam 17.34 WIB.

Penulis adalah Guru IPS SMP Negeri 1 Kemang, Kabupaten Bogor; Ketua Departemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Pengurus Besar PGRI

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.