Motor Hantu di Ambalau

(Ilustrasi: Radar Utara)

Share

Cerpen Berti Nurul Khajati

TIBA di perbatasan Kecamatan Ambalau, Satria dan Aren merasa sangat lelah. Mereka duduk di atas batu besar di pinggir jalan. Rumah Kakek Musa masih jauh di tengah desa, di wilayah Kecamatan Ambalau Kabupaten Buru Selatan. Kakek Musa bilang akan menjemput di tapal batas kecamatan agar mereka tidak salah arah. Di perbatasan itu memang ada dua jalur yang sekilas sangat mirip, namun arahnya menuju desa yang berbeda. Kata Kakek Musa, Ambalau merupakan sebuah wilayah yang masih kental tradisi adatnya. Tak seorang pun berani melanggarnya karena takut pada kutukan Oponastala, Tuhan orang Buru.

Rumah Kakek Musa gelap. Tidak ada listrik di desa ini. Menurut Kakek Musa, seluruh desa di wilayah Kecamatan Ambalau dilarang menggunakan listrik. Uniknya lagi, meski wilayah Kecamatan Ambalau terbilang cukup luas, tak satu pun motor yang dimiliki oleh penduduk. Jadi ke mana pun mereka pergi, berjalan kaki adalah cara yang paling umum dilakukan. Tak heran kalau sejak Satria dan Aren berada di desa Kakek Musa ini tak sekali pun mereka dengar deru mesin motor yang akrab di telinga saat masih di rumah. Masih menurut Kakek Musa, listrik hanya boleh dipakai di pusat kota kecamatan. Itu pun hanya terbatas pada malam hari dan menggunakan genset. Selebihnya, tak ada desa yang berani memasang listrik dalam bentuk apa pun. Mereka patuh pada aturan adat yang berlaku.

“Kek, belutnya besar-besar!” seru Satria. Aren cepat-cepat mendekati Satria sambil membawa ember tempat menampung ikan. Belum sempat mereka menangkap belut dari sungai kecil di pinggir desa, Kakek Musa buru-buru mencegah.

“Tidak boleh! Bisa marah Oponastala. Tak akan ada air untuk desa beta.”

“Kenapa, Kek? Bukannya daging belut bergizi tinggi?” Satria agak kecewa.

Ose harus tahu. Belut bukan untuk dimakan. Kalau dimakan, nanti marahlah Oponastala. Sumber air akan kering. Seluruh desa di Ambalau akan kena kutukan kekeringan.”

Kakek Musa mengajak mereka mencari ikan. Sungai kecil itu berair bening. Rupanya penduduk desa sangat patuh pada adat yang berlaku. Belut-belut gemuk itu bebas berkeliaran di sungai tanpa ada yang mengusik. Sumber air pun tetap terjaga dan tak pernah kering karena alam sekitar yang masih subur menghijau.

Malam itu bulan purnama. Satria dan Aren membakar ikan di halaman rumah Kakek Musa. Sambil membolak-balik ikan di atas bara, Aren bertanya,”Kek, mengapa di sini tidak ada motor? Ke mana-mana kita harus jalan kaki. Kan lebih enak naik motor, Kek. Nggak pegal-pegal kaki kita.”

Kakek Musa bercerita, dulu ada seorang pemuda yang melanggar pantangan itu. Karena sudah kuliah di kota, pemuda itu merasa larangan naik motor tidak masuk akal. Oponastala marah, motor pemuda itu menjadi hantu, tak dapat keluar dari hutan. Semenjak peristiwa itu, tak ada lagi orang yang berani melanggar pantangan. Konon katanya, motor hantu itu masih tertinggal di dalam hutan sedangkan pemuda itu sudah diusir keluar dari Pulau Buru.

“Apakah suara motor hantu itu masih ada, Kek?” Aren masih penasaran.

“Semenjak pemuda itu pergi, suara hantu itu tak terdengar lagi. Warga sini pun tak ingin lagi dengar cerita tentang motor hantu. Takut Oponastala marah, hutan kita bisa rusak.”

Udara di hutan sangat sejuk. Sambil melepaskan lelah, Satria dan Aren duduk terkantuk-kantuk di bawah pohon besar. Kakek Musa sakit batuk. Satria dan Aren masuk ke hutan desa untuk mencari daun yang biasa digunakan sebagai obat. Pesan Kakek Musa tadi, daunnya kecil-kecil dan buahnya berbiji merah. Kalau daun itu diperas, airnya diminum untuk mengobati batuk. Rasanya sedikit pahit tetapi lama kelamaan akan meninggalkan rasa manis di mulut. Daun itu sangat manjur mengobati batuk.

Satria tersentak ketika tiba-tiba Aren menepuk bahunya.

“Itu di sana, Satria. Daun obat yang dimaksud Kakek. Ayo kita petik!” Satria pun segera bangkit dan mengikuti langkah Aren. Tumbuhan itu sangat subur dan rimbun. Daunnya persis seperti yang digambarkan oleh Kakek Musa. Beberapa buah tua yang sudah merekah pun menampakkan warna bijinya yang merah.

“Ren, itu seperti kemudi motor,” bisik Satria sambil menunjuk sebuah batang hitam menyembul di sela-sela lebatnya rimbunan pohon obat. Jelas bukan batang pohon karena terlalu lurus dan mulus. Batang itu lebih mirip besi yang menghitam karena lembabnya udara di dalam hutan. Disibaknya rimbunan semak berbiji merah itu agar ia dapat melihat lebih jelas.

“Pelan-pelan, nanti Oponastala marah kalau pohonnya rusak,” Aren mengingatkan. “Lebih baik kita ajak Kakek Musa ke mari. Tapi besok kalau batuknya sudah sembuh.”

“Kalian pintar, anak-anak. Ini namanya daun saga. Daun saga ini obat batuk alami yang sangat manjur,” Kakek Musa pun meremas daun-daun itu sampai keluar air, lalu meminumnya. Dua hari meminum air perasan daun saga, Kakek Musa tampak sehat dan batuknya sudah sembuh. Alam memang menyediakan obat bagi manusia. Jadi manusia harus merawat alam agar tetap terjaga kelestariannya.

Hari itu Kakek Musa mengikuti Satria dan Aren kembali ke tempat mereka memetik daun saga. Sesampainya di sana, Kakek Musa dengan hati-hati menyibakkan rimbunan semak saga. Tanpa mereka duga, di balik suburnya semak ternyata ada sebuah motor yang sudah menjadi kerangka. Besi-besinya sebagian besar sudah keropos karena berkarat. Kakek Musa bergumam, “Ya ya, ini rupanya rahasia motor hantu itu.” Satria dan Aren saling berpandangan.

Hari Minggu pagi, Kapten Nusantara menepati janji. Ia datang ke Ambalau untuk menjemput Satria dan Aren.

“Kek, Ayah datang!” teriak Satria kepada Kakek Musa yang sedang menyiapkan sarapan. Kakek Musa senang menyambut kedatangan Kapten Nusantara. Berempat, mereka menikmati sarapan dengan penuh rasa syukur.

“Jadi, apa kesimpulan kalian tentang motor hantu di Ambalau?” tanya Kapten Nusantara sambil tertawa. Satria dan Aren saling melempar senyum. Ya, tentu saja motor itu tetap tertinggal di dalam hutan karena tidak menemukan Pom Bensin.

Dari pengalaman liburan di Ambalau dan cerita Kakek Musa tentang motor hantu yang kerangkanya mereka temukan di semak tumbuhan saga, kini mereka tahu betapa pentingnya menjaga alam dari polusi air, tanah, dan udara.***

Berti Nurul Khajati, alumni IKIP Muhammadiyah Purworejo. Kini berprofesi sebagai guru dan tinggal di Bekasi.

Redaksi didikpos.com menerima karya sastra dari pembaca berupa cerpen, carpon, puisi. Karya sastra dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.