Nyamuk

Suryatno Suharma, (Foto: Dok. Pribadi).

Share

Oleh Suryatno Suharma

SEPERTI biasa. Sebelum tidur kubaca buku motivasi. Judulnya bagus. Pasti bagus karena berisi dukungan semangat. Walau hanya setengah bab setiap aku baca. Malas dan cepat lelah. Aku cepat ngantuk kalau membaca. Tapi mata tak mau terpejam bila tidak membuka halaman demi halaman buku motivasi. Hebat. Aku kutu buku!

Tak ingin bicara panjang tentang buku. Apalagi soal membaca. Cepat lelah. Lebih suka kuambil obat nyamuk. Mengapa? Karena aku tersiksa bila malam tiba ada nyamuk, mengganggu.

Seperti sekarang. Aku sulit tidur gara-gara seekor nyamuk. Untung dia bodoh. Buktinya terbang di dekat telingaku. Rasain, kuhajar.

Tepuk dan mati. Gemas.

Eh, rupanya banyak temannya. Nyamuk kompak selalu pandai bergaul. Kaki dan tanganku sering mereka jadikan sasaran. Waduh, gatalnya tuh kalau ada yang menusuk di jari. Gatal sekali.

Nah, datanglah nyamuk lain. Menclok di kening. Biasanya saat aku sudah kesal. Pagi hari berbekas. Garukan terkelupas. Terasa pedih. Gemas. Ada yang bergentayangan di gorden. Kuhajar. Darahnya kental. Pasti darahku. Atau darah istriku. Tuh, pipi dia juga berbekas. Sayang, manisnya terganggu oleh tusukan nyamuk.

Sering aku salah kata soal nyamuk. Seperti digigit nyamuk. Tidak, kawan. Nyamuk tidak menggigit. Tapi menusuk. Lalu nyedot darah.

Ada lagi obat. Kan biasanya obat itu untuk menyembuhkan sakit. Umpama obat flu agar sakit flunya sembuh. Tapi aku sering mengatakan obat nyamuk. Padahal mereka sehat dan terbang seperti pesawat tempur kian kemari. Biasa mencari rejeki di pipi, kening, jari, atau tempat lain.

Obat nyamuk. Pembasmi nyamuk sebenarnya. Atau pengusir lebih tepatnya. Nyamuk menjauh karena bau dan pasti merasakan pedih di matanya. Aku juga merasa pedih karena asap obat nyamuk. Tapi bukan sembuh. Aku tidur dan nyenyak setelah mereka menjauh.

Kadang tak hanya malam aku diganggu. Bisa pagi, siang, atau sore. Sama gatalnya bila mereka sedot darahku. Dan, sayang darah segarku. Masa dia anggap donor. Tidak lah yaw.

Malam ini pukul satu. Aku belum juga ngantuk. Soalnya baru saja membaca buku motivasi dan nencari korek api. Lalu kuambil obat nyamuk. Tuh kan salah lagi. Pembasmi atau pengusir nyamuk.

Huh….

Tak cukup sebentar mengusir nyamuk malam ini. Sesekali kudengar suara lengkah manusia di luar. Suara belalang dan jangkrik juga kudengar. Detak jam dinding mengirama menggantikan bisingnya nyamuk kurang ajar. Lalu aku diam. Merenung.

Ah, nyamuk saja dibikin repot. Mereka kan gak bawa ember.

Istriku sering nyeletuk begitu. Seperti tak sayang darah. Seperti berpihak pada nyamuk sontoloyo itu.

Ah, biar.

Aku tetap belum mengantuk. Hanya karena diganggu nyamuk. Apalagi kalau cuaca panas. Berselimut tak nyaman. Aku sering gelisah menghadapi binatang kecil ini.

Yah, entah hingga kapan aku diganggu nyamuk. Entah berapa lama aku berpikir tentang nyamuk.

Kerja, kerja, kerja!

Betul. Bekerja lebih penting ketimbang mikir urusan pesawat malam yang melintas dekat telingaku. Aku pusing dan lelah.

Esok harinya aku kesiangan dan tidak bekerja. Malas. Tidur lagi setelah memandangi mereka yang gentayangan. Banyak dengan perut buncit. Ada yang diam di baju, gorden, dan menclok di buku yang aku baca.

Lalu apa gunanya perih. Mengapa korek dan obat tak mampu mengusir di sontoloyo?

Bangun!

Istriku berteriak.

Aku terus memandangi mereka yang selalu mengganggu tidurku.
Aku hajar. Mati.

Malam ini suara mereka.

Malam ini aku rasa.

Malam yang berbeda. Karena nyamuk itu tidak lagi beterbangan di ruang batinku.

Aku tenang membaca suara pesawat terbang asli yang melintas di udara atas kampung kami.

Pukul satu seperempat pesawat itu melayang di ketinggian. Malam sepi kembali. Isi hatiku padat dengan motivasi dari buku yang kubaca malam ini.

Esok harus kupraktekkan. Aku harus bekerja agar ada hasil untuk membeli obat nyamuk.

Malam sunyi.***

Suryatno Suharma, lulusan Jurusan Pendidikan Basa & Sastra Sunda FPBS IKIP Bandung (UPI). Kini mengelola Yayasan Insan Basajan.

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.