IDI: KBM Tatap Muka Wajib Ditunda

Share

DIDIKPOS.COM – Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, menegaskan, penundaan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka wajib dilakukan. Sebab, kasus Covid-19 yang terus naik ditambah kekhawatiran adanya varian baru SARS-CoV-2.

“Sekolah tatap muka sebaiknya ditunda. Wajib. Apalagi dengan adanya varian baru Covid-19 dan angka positivity rate masih di atas 20 persen. Saya tahu ini tidak nyaman, tapi ini untuk keselamatan jiwa anak-anak kami dan keluarganya,” kata Zubairi, dalam cuitan di akun Twitter pribadinya, Rabu (30/12/2020).

Diketahui, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia memang menunjukkan penambahan signifikan setiap hari. Pada Rabu (30/12/2020), Satgas Penanganan Covid-19 mencatat adanya penambahan kasus harian yang telah menembus angka 8.002 dari 72.922 pemeriksaan spesimen terhadap 44.389 orang.

Satgas melaporkan Provinsi DKI Jakarta menjadi penyumbang tertinggi, yakni sebanyak 2.053 kasus baru. Disusul Jawa Barat yang melaporkan 1.233 kasus baru, Jawa Tengah dengan 951 kasus, Jawa Timur 896 kasus baru, dan Sulawesi Selatan 538 kasus.

Zubairi menuturkan, pernah memaparkan tentang pencegahan penularan Covid-19 jika KBM tatap muka tetap dilaksanakan. Pencegahan itu bisa dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

“Itu jadi pilihan akhir yang bisa dilakukan ketika kebijakan tersebut sudah telanjur berjalan. Tetapi kalau akhirnya ditunda, itu bagus banget. Dua jempol,” kata dia.

Sementara Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B Pulungan mengatakan, saat ini memang lebih aman untuk melakukan pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) atau di rumah daripada tatap muka. Sebab, kasus Covid-19 di Indonesia setiap hari makin meningkat dan sangat berisiko jika dipaksakan KBN tatap muka.

Aman menilai KBM tatap muka berisiko tinggi memperburuk penularan Covid-19. Kendati PJJ tidak gampang dengan sejumlah kendala yang menyertainya, IDAI memandang hal tersebut masih lebih baik.

“Tanya Pak Menkes baru (Budi Gunadi Sadikin) juga saja terkait hal tersebut,” ujarnya. (des)***

Sumber: Republika.co.id