Prof. Dadang Suganda: Gramatika Deskriptif Jadi Solusi

oleh -430 Dilihat
Share

DIDIKPOS.COM – Seiring bergulirnya zaman, perkembangan bahasa Indonesia terus berlangsung. Selain dipengaruhi kata-kata serapan dari bahasa asing, bahasa yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pun menjadi fenomena yang tidak bisa diabaikan. Dari tahun ke tahun, banyak bermunculan kata-kata dan idiom-idiom baru di tengah masyarakat.

“Bahasa berfungsi sebagai media komunikasi. Selain memiliki struktur gramatika yang menjadi standar baku berbahasa (internal), bahasa pun banyak dipengaruhi oleh kondisi nyata penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat (eksternal),” kata Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Padjadjaran (FIB Unpad), Prof. Dadang Suganda, kepada didikpos.com, di Gedung Pascasarjana Unpad,  baru-baru ini.

Dadang menyebutkan, pada era 1970-an di antaranya muncul kata salome. Kata yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) itu biasa digunakan dalam bahasa pergaulan anak muda. Salome bermakna untuk menggambarkan perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Lalu, lanjut Dadang, pada era kini, muncul kata-kata seperti cabe-cabean, lebay, woles, dan kata-kata lainnya.

“ Itu menunjukkan, perkembangan bahasa di masyarakat sangat dinamis. Munculnya kata-kata baru itu di antaranya dalam pergaulan anak muda, di bidang politik, dan seks,” ujar mantan Dekan Fakultas Sastra/FIB Unpad itu.

Selanjutnya Dadang menuturkan, beberapa contoh lain penggunaan bahasa Indonesia antara lain terjadi di tengah masyarakat Papua. Di provinsi paling timur di Indonesia itu, masyarakat kerap menggunakan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa Papua. Tak heran jika kemudian muncul pertanyaan, apakah bahasa begitu termasuk ke dalam bahasa Indonesia?

“Menyikapi kondisi itu, apakah ahli bahasa akan begitu saja mengabaikan kondisi yang muncul di tengah masyarakat? Kajian yang dilakukan oleh pakar bahasa, Harimurti Kridalaksana, tentang gramatika deskriptif tampaknya bisa menjadi solusi. Selain berdasarkan aspek internal, perkembangan bahasa pun banyak dipengaruhi aspek eksternal,” ujar Dadang.

“Gramatika deskriptif melihat penggunaan bahasa secara fleksibel. Prinsipnya, bahasa digunakan dalam situasi yang berbeda-beda. Realitas itu tak bisa dielakkan. Berbahasa dengan menggunakan struktur baku, biasa dilakukan dalam aktivitas formal. Sedangkan dalam pergaulan sehari-hari, bahasanya pun lebih fleksibel, sesuai dengan konteks penggunaannya. Itulah yang disebut bahasa yang baik dan benar,” imbuh guru besar kelahiran Rancah, Kabupaten Ciamis itu. (dede suherlan)**  

No More Posts Available.

No more pages to load.