Soal Tatakrama

Ilustrasi bahasa santun, (Foto: srirahayufns31.blogspot.com).

Share

Oleh Galih Suryatno Majenang

KEHIDUPAN memberi ruang untuk setiap manusia berekspresi. Eksistensi masing-masing individu selalu dibentuk melalui proses panjang dengan ragam latar belakang. Pribadi terbentuk dalam sebuah keluarga inti, ayah, ibu, dan anak.

Sementara dukungan sekitarnya, nenek-kakek, sanak saudara akan memberi warna lainnya. Teman, masyarakat akhirnya lebih cepat lagi mempengaruhi karakter inti. Maka sistem pula yang akhirnya menandai, mempolakan budaya secara luas.

Manusia di dunia memerlukan nilai dan dibentuk oleh nilai pula. Tingkat apresiasipun seringkali menjadikan masyarakat sadar akan pentingnya norma.

Berbahasa saja yang keseharian dikemas dengan adat lokal atau regional, hingga nasional, memerlukan aturan dan etika tersendiri. Sebut saja tatakrama
dengan ragam caranya.

Kita sering abai umpamanya, maka adat akan lain menerimanya. Tatakrama sebagai budaya khas bangsa kita mau tidak mau harus dijadikan pedoman dalam pergaulan. Bahkan karakter bangsa akan terpengaruhi oleh tatakrama khas ini. Pendek kata, bangsa beradab kiranya selalu membutuhkan tatakrama yang kokoh.

Berbahasa tutur santun bukan saja pantas tapi akan membuat petuturnya puas. Puas dalam arti tidak ragu lagi menggunakan bahasa yang baik.

Melalui forum ini penulis berharap ada upaya bahu-membahu untuk terus menggelorakan tatakrama dalam berbahasa. Mengapa? Karena kita khawatir suatu saat nanti bangsa ini menjadi korban ketidak-pedulian generasi muda dalam menjunjung nilai budaya.

Wanti-wanti para orangtua untuk selalu memberi teladan dalam melestarikan tatakrama sebagai khas bangsa Indonesia.

Selamat berbahasa santun! ***

Penulis adalah pegiat Komunitas Berbahasa Santun di Gegerkalong Girang, Kota Bandung.