Puisi Fiqih Mulia Akasah

Ilustrasi, (Foto: Nu.or.id).

Share

Hitam Putih

Hitam putih adalah aku
Yakni manusia pasca-tradisional
Flamboyan bukanlah aku
Akulah hollyhock yang tumbuh di iklim pneunoia

Akulah generasi hitam putih
Mengikuti arus peradaban
Yang teronggok pada dongeng masa depan
Akulah kaki bangsa, yang masih gugup untuk berjalan

Akulah hitam putih
Gambaran tatanan zaman yang semrawut
Langit bukanlah aku
Akulah tanah yang menyerap segala bentuk kepedihan dan penderitaan

Akulah hitam putih
Bayangan gelap masa lalu
Cahaya terang masa depan
Menjadi penengah dari segala macam warna warni dunia

Fenomena

Fenomena despotisme marak memang
Dari dulu hingga sekarang
Perundingan di meja sidang hanya menghasilkan genderang perang.
Benteng Feodal semakin angkuh mengekang.

Rakyat tenggelam dalam mimpi demagogi
Memberontak hanya akan mengundang mati.
Kelaparan sudah menjadi tradisi.
Pemerintah tak pernah menggunakan hati,
mereka lebih sering menggunakan belati.

Suara jerit penderitaan tak jemu-jemu berkumandang
Hasil panen petani dirampas demi kebutuhan perang
Penindas dan Penjajah sama saja,
tak pernah membuat tenang.
Ambisi kekuasaan selalu menghadirkan penderitaan panjang.

Kamarku, 25 Juni 2019.

Kulturalisme Pemuda

Teramat apatis tingkah laku kita
Buta terhadap segala macam warisan budaya
Pasif untuk menerobos cakrawala sejarah
Malu tenggelam dalam samudera keambiguan adat istiadat

Palung kulturalisme budaya enggan kita pelajari
Sedang beribu budaya modernitas kita junjung tinggi
Segala bentuk kebudayaan dikomersialisasi

Sebab seni sekarang ini, hanya memperhitungkan untung rugi

Menangis nenek moyangku
Melihat sang pewaris menjual harta warisannya
Lemah langkah pemuda
Kena tampar ruh moyangnya

Biodata
Fiqih Mulia Akasah, siswa SMK Negeri 1 Kadipaten, Kabupaten Majalengka, kelas XI-TKJ 3. Kini tinggal di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Majalengka.