Khasiat Korona

Korona, (Karikatur; Republika.co.id)

Share

Oleh Suryatno Suharma

SUNGGUH mujarab. Aku baru sadari detik ini. Dan, puas karenanya. Aku yang dikenal bandel. Aku yang tak hirau apapun kini lain.

Dulu, kuat rasa percaya diriku. Siapapun tak mau dan tak kan mampu mengalahkanku. Aku sombong, besar kepala.

Merdeka bagiku pol. Bebas hidup sesuai keinginan aku sendiri.

Dini hari aku bisa minum kopi. Begadang pun sudah jadi kebiasaan. Rokok dua bungkus setengah malam ludes. Makanan di toples akan cepat sirna. Pagi aku bisa pulas. Siang bangun semauku. Sore baru makan pagi. Eh, makan nasi. Apa saja masuk perut secara leluasa tanpa dosis. Kenyang. Aku kenyang setiap selesai makan. Malas biasa. Ngantuk, ya tidur lagi. Sepuasku.

Sore jalan santuy. Lewat gang, keluar jalan raya. Nongkrong di alun-alun. Rebahan di teras masjid. Kerja rutin namanya. Mencariku, gampang banget. Kata orang, taman itu tempat orang bingung dan linglung. Di situlah aku berada, hampir setiap saat.

Full seharian duduk-duduk di atas kuburanpun biasa. Membayangkan kematian, siksa kubur, dan antrean di pintu neraka. Bayangan kala aku melamun. Lalu aku menyapa orang. Mau ke mana?

Rata-rata jawaban yang kudapat … Bisnis! Cari duit. Kerja biar gaji besar. Kubaca WA sama … Semua menjemput rejeki. Wah, aku banyak mengalah. Tak usah bersaing atau berebut. Ada yang ngatur!

Cerita cinta. Paham. Soal mesra. Soal harmoni. Ah, tak aneh. Dusta. Bila tanpa uang alias doku, nikah pun gagal. Cerai ujung rumah tangga. Lalu …

Nah, korona. Lagi-lagi korona. Obat mujarab puyengku. Aku jadi sadar setelah ada korona. Rakus, takut tak makan, sirna. Berkat korona, semua diam.

Di rumah.

Hidup korona! ***

Penulis adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda IKIP Bandung, pengajar, dan pengamat kehidupan.

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.