Proses Kreatif dalam Teori Menulis

Ilustrasi proses kreatif dalam teori menulis, (Foto: republika.co.id).

Share

Oleh Erwan Juhara

TUJUAN akhir Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah adalah mencapai keterampilan berbahasa. Nida, 1957: 19  dan Harris, 1977: 9 dalam bukunya menjelaskan bahwa keterampilan berbahasa itu didukung oleh empat unsur penting keterampilan berbahasa, yakni mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Mendengar adalah kegiatan berbahasa yang pertama kali dilakukan oleh manusia sejak dari alam kandungan hingga lahir dan tumbuh kembang. Berbicara adalah keterampilan kedua yang dimiliki saat komunikasi manusia dibutuhkan untuk saling memahami tujuan sosialisasi. Membaca adalah keterampilan ketiga yang dilakukan untuk memperkuat dan menambah kualitas kognitif manusia kepada fenomena kehidupan yang terjadi. Menulis adalah keterampilan berbahasa  keempat yang ditempuh manusia untuk mengaplikasikan semua persoalan pendengaran, pembicaraan, dan pembacaan yang mengendap dalam panca indera manusia.

Jadi, menulis bukan hanya sekadar menuliskan kata atau huruf, tetapi di dalamnya terkandung pemahaman dan pemikiran mendalam semua yang telah terdengar, terucap, dan terbaca. Menulis adalah kemampuan tertinggi proses keterampilan berbahasa manusia. Menulis merupakan suatu proses kreatif  yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kognitif, penyusunan sebuah tulisan memuat empat tahap, yaitu:

(1) tahap persiapan (prapenulisan), yakni pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran dan inferensi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang memperkaya masukan kognitifnya yang akan diproses selanjutnya.

(2) tahap inkubasi, yakni pembelajar memproses informasi yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam. Proses ini seringkali terjadi secara tidak disadari, dan memang berlangsung dalam kawasan bawah sadar (subconscious) yang pada dasarnya melibatkan proses perluasan pikiran (expanding of the mind). Proses ini dapat berlangsung beberapa detik sampai bertahun-tahun. Biasanya, ketika seorang penulis melalui proses ini seakan-akan ia mengalami kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, tidak jarang seorang penulis yang tidak sabar mengalami frustrasi karena tidak menemukan pemecahan atas masalah yang dipikirkannya. Seakan-akan kita melupakan apa yang ada dalam benak kita. Kita berekreasi dengan anggota keluarga, melakukan pekerjaan lain, atau hanya duduk termenung. Kendatipun demikian, sesungguhnya di bawah sadar kita sedang mengalami proses pengeraman yang menanti saatnya untuk segera “menetas”.

(3) tahap iluminasi, yakni ketika datangnya inspirasi atau insight, yaitu gagasan datang seakan-akan tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. Pada saat ini, apa yang telah lama kita pikirkan menemukan pemecahan masalah atau jalan keluar. Iluminasi tidak mengenal tempat atau waktu. Ia bisa datang ketika kita duduk di kursi, sedang mengendarai mobil, sedang berbelanja di pasar atau di supermarket, sedang makan, sedang mandi, dan lain-lain.

(4) tahap verifikasi/evaluasi, yakni apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya. Jadi, pada tahap ini kita menguji dan menghadapkan apa yang kita tulis itu dengan realitas sosial, budaya, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Keempat proses ini tidak selalu disadari oleh para pembelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Namun, jika dilacak lebih jauh lagi, hampir semua proses menulis (karya tulis ilmiah atau populer) melalui keempat tahap ini. Proses kreatif tidak identik dengan proses atau langkah-langkah mengembangkan laporan tetapi lebih banyak merupakan proses kognitif atau bernalar. Bentuknya bisa berupa Menulis Intensif , yakni situasi komunikasi pasif dalam menyampaikan suatu maksud melalui bahasa tulisan dengan maksud menguasai suatu ilmu dan kajian atau Menulis Ekspresif, yakni  situasi komunikasi aktif dalam mengungkapkan suatu maksud melalui bahasa tulisan dengan maksud mengambarkan situasi gejolak jiwa manusia atas suatu realitas kehidupan.

Kemampuan mendengar/menyimak, berbicara, membaca, dan menulis adalah catur tunggal yang harus dilatih. Bahasa dan Sastra Indonesia adalah bahasa universal bangsa Indonesia untuk melatih catur tunggal tersebut sebagai jembatan penguasaan keterampilan berbahasa secara umum di dunia.***

Erwan Juhara adalah Penulis dan Pengarang; Guru SMAN 10 Bandung (dulu di SMAN 1 Maja dan SMAN 1 Sukahaji Kabupaten Majalengka); Dosen MKU Bahasa Indonesia dan MKU Sejarah Kebudayaan Indonesia di Jurusan Mandarin Akademi Bahasa Asing(ABA) Internasional Bandung; Ketua Umum Yayasan Jendela Seni Bandung; Sekretaris Umum Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Tingkat Nasional; Ketua Umum Asosiasi Guru/ Dosen/ Tenaga Kependidikan Penulis/ Pengarang (AGUPENA) Jabar. Kini tinggal di Jalan Sukapura 79 B Gang Anggrek RT 01 Rw 02 Kiaracondong-Bandung 40285.

Redaksi didikpos.com menerima tulisan dari pembaca berupa artikel, feature, essay. Tulisan dikirimkan melalui email: didikposmedia@gmail.com.