Komisi X DPR Sayangkan Adanya Polemik Uang Jaminan Rp 100 Juta untuk Calon Mahasiswa Baru ITB

Kampus ITB, (Foto: Mediaindonesia.com).

Share

DIDIKPOS.COM – Munculnya polemik persyaratan uang Jaminan Kemampuan Keuangan (JKK) sebesar Rp 100 juta bagi calon mahasiswa yang lolos lewat Seleksi Mandiri (SM) ITB disayangkan oleh anggota Komisi X DPR RI, Bramantyo Suwondo. Dia mengatakan, situasi itu muncul karena tidak adanya komunikasi yang baik antara ITB dengan calon mahasiswa.

Peristiwa itu viral ketika salah calon mahasiswa ITB memposting persyaratan tersebut di media sosial. Calon mahasiswa ITB jalur SM harus menyertakan surat kemampuan finansial karena ada kebijakan subsidi silang pembiayaan mahasiswa.

Menurut Bramantyo, para calon mahasiswa berhak mendapatkan kejelasan dalam mendaftar. Karena masa pandemi ini sudah sangat memberikan dampak negatif bagi calon mahasiswa. Dengan sistem pendaftaran yang jelas setidaknya membantu tidak memberi beban bagi calon mahasiswa.

“Harusnya pihak universitas sedari awal pembukaan seleksi mandiri mengkomunikasikan secara jelas segala persyaratan maupun proses pendaftaran,” ujar Bramantyo, Selasa (21/7/2020), dikutip Republika.co.id.

Sementara Kepala Biro Komunikasi dan Humas ITB, Naomi Haswanto, menjelaskan, uang jaminan tersebut hanya dibebankan kepada calon mahasiswa baru yang mendaftar lewat jalur SM. Kata dia, uang itu akan dialokasikan untuk calon mahasiswa yang mendaftar lewat dua jalur penerimaan lain yakni, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

“Kalau di program SM ini memang diharapkan orang tua mampu membiayai anaknya berkuliah hingga tamat, bahkan dapat membantu program subsidi silang bagi kedua program yang lain,” kata, Selasa (21/7/2020), seperti dirilis CNNIndonesia.com.

Naomi menerangkan, untuk memastikan kemampuan finansial, calon mahasiswa baru dari jalur SM harus menyertakan Surat Keterangan dari bank. Nantinya, bank yang akan menilai dan memberikan Surat Keterangan Kemampuan orang tua calon mahasiswa yang bersangkutan.

Dengan begitu, diharapkan, calon mahasiswa ITB akan dapat menyelesaikan kuliahnya hingga akhir. Bahkan, dapat membantu program subsidi silang bagi kedua program yang lain, SNMPTN dan SBMPTN.

Mahasiswa Nonsubsidi

Direktur Pendidikan ITB, Arief Hariyanto, menuturkan, program penerimaan SM merupakan program seleksi penerimaan mahasiswa baru nonsubsidi bagi calon mahasiswa baru ITB.

Program SM, kata Arief, bertujuan untuk memberikan subsidi silang kepada mahasiswa lain yang tidak mampu membayar UKT penuh.

ITB menyediakan 30 persen kuota bagi calon mahasiswa baru di tingkat S1 jalur SM. Sementara sisanya, sebanyak 70% disediakan untuk calon mahasiswa baru untuk jalur penerimaan SNMPTN dan SBMPTN dengan masing-masing kuota 35%.

Dikatakan Arie, hanya sekitar 54-57% mahasiswa ITB di di program SNMPTN dan SBMPTN yang mampu membayar UKT secara penuh. Ia berharap program SM menjadi alternatif untuk memberikan subsidi silang kepada mahasiswa-mahasiswa ITB yang tidak mampu membayar UKT, senilai Rp 12,5 juta per semester.

“Karena Program Seleksi Mandiri ini adalah program nonsubsidi, maka ITB membutuhkan jaminan komitmen dari orang tua mahasiswa yang diterima melalui program SM, bahwa mereka akan mampu membayar UKT Seleksi Mandiri sebesar Rp. 25.000.000/semester,” jelasnya. (haf)***