BALADA KOPI TUMPAH

Ilustrasi cinta yang retak, (Foto: Liputan6.com).

Share

Eha Rohayati

Suatu senja…                                          
Di ruang hati kecewa

Ketika hati tak lagi sejalan
Ketika rasa terpaut asmara tabu
Dua insan dalam dilema

Yang bertahan demi kapal jangan sampai karam
Yang berontak demi nafsu dan egonya

Seduhan kopi yang selalu tersaji
Pagi, siang atau malam kesukaannya.
Terlewati tak dinikmati..

Di sela waktu 
Terucap kata untuk menjelaskan, bukan menuduh.. 
Terucap nasihat untuk mengingatkan
Fakta tak terelakkan untuk sebuah kebenaran.. .

Hatinya buta, matanya gelap saat itu
Kopi yang tersaji menyiram tubuh yang penuh sabar dan setia walau sakit terasa.. 
Sumpah serapah tak terbendung lagi
Bersama secangkir kopi melayang 
Kemeja putih ternoda, tergores sampai ke relung hati. 
Tak ada sesal, namun di kemudian hari

Lukanya berdarah, sampai saat ini
Hanya waktu yang bisa mengobati
Tapi bekas luka tak akan sempurna
Tetap membekas masih beronggga

Senja itu kemarau melanda
Tak ada hujan yang menyejukan
Ranting, dahan kering seolah tak bertuan
Tunas harapan entah kapan munculnya
Seiring waktu tunas akan bersemi kembali, bersama turunnya hujan di senja hari.

Sukabumi, 2017

Biodata

Eha Rohayati, lahir di Tasikmalaya 15 Agustus. Guru  Bahasa dan Sastra Indonesia di SMPN 2 Sukaraja. Kabupaten Sukabumi.